İqbal Musyaffa
15 April 2019•Update: 16 April 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia mengumumkan posisi utang luar negeri Indonesia pada akhir Februari sebesar USD388,7 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko mengatakan utang tersebut terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar USD193,8 miliar dan utang swasta termasuk BUMN USD194,9 miliar.
Onny mengatakan posisi utang luar negeri naik USD4,8 miliar dibandingkan dengan posisi pada akhir periode sebelumnya karena neto transaksi penarikan utang luar negeri.
“Posisi utang luar negeri tetap terkendali dengan struktur yang sehat,” ungkap Onny dalam keterangan resmi, Senin.
Onny menambahkan utang luar negeri Indonesia secara tahunan tumbuh 8,8 persen pada Februari 2019.
Pertumbuhan ini meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan pada bulan sebelumnya sebesar 7,2 persen.
“Peningkatan pertumbuhan utang luar negeri tersebut terutama bersumber dari pertumbuhan utang luar negeri pemerintah,” jelas Onny.
Dia menguraikan utang luar negeri pemerintah meningkat pada Februari 2019 untuk membiayai sektor-sektor yang produktif.
Posisi utang luar negeri pemerintah pada Februari 2019 sebesar USD190,8 miliar atau tumbuh 7,3 persen (year on year), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 3,9 persen (year on year).
Menurut dia, pertumbuhan utang luar negeri pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh arus masuk dana investor asing di pasar SBN domestik selama Februari 2019, yang menunjukkan peningkatan kepercayaan investor asing terhadap perekonomian Indonesia.
Selain itu, pada Februari 2019 pemerintah juga menerbitkan Global Sukuk, untuk mendukung pembiayaan fiskal dalam kerangka Green Bond dan Green Sukuk.
“Masuknya aliran dana utang luar negeri kepada pemerintah memberikan kesempatan lebih besar bagi pembiayaan belanja negara dan investasi pemerintah,” tambah Onny.
Dia menjelaskan sektor-sektor prioritas yang dibiayai melalui utang luar negeri pemerintah antara lain sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial, sektor konstruksi, sektor jasa pendidikan, sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib, serta sektor jasa keuangan dan asuransi.
“Sementara utang luar negeri swasta tumbuh stabil pada Februari 2019,” ujar dia.
Onny menjabarkan posisi utang luar negeri swasta pada Februari 2019 sebesar USD1,3 miliar atau tumbuh sebesar 10,8 persen (yoy), relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya.
Utang luar negeri swasta sebagian besar dimiliki oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian.
“Pangsa utang luar negeri di keempat sektor tersebut terhadap total utang luar negeri swasta mencapai 74,2 persen,” lanjut Onny.
Dia menekankan struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat. Kondisi tersebut tercermin antara lain dari rasio utang luar negeri Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 36,9 persen pada akhir Februari 2019.
“Ratio tersebut relatif tidak banyak berubah dari bulan sebelumnya dan masih berada di kisaran rata-rata negara peers,” tegas Onny.
Selain itu, Onny menambahkan berdasarkan jangka waktunya, struktur utang luar negeri Indonesia pada akhir Februari 2019 tetap didominasi oleh utang luar negeri berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,3 persen dari total utang luar negeri.
“Dengan perkembangan tersebut, meskipun utang luar negeri Indonesia mengalami peningkatan, namun struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat,” kata Onny.
Dia menambahkan Bank Indonesia dan Pemerintah terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan utang luar negeri dan mengoptimalisasi perannya dalam mendukung pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.