Iqbal Musyaffa
08 April 2020•Update: 09 April 2020
JAKARTA
Bank Indonesia memperkirakan defisit transaksi berjalan (CAD) masih terjaga dan terkendali di tingkat 2,5 hingga 3 persen PDB.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan proyeksi tersebut sudah memasukkan perkiraan dampak ekonomi akibat penyebaran Covid-19 yang menimbulkan gangguan pada perekonomian global, penurunan mata rantai perdagangan dunia, dan juga rendahnya harga komoditas.
“Tapi kalau kita lihat CAD Indonesia, penurunan impor sebagai dampak Covid-19 lebih besar karena memang struktur ekonomi kita membutuhkan impor yang masih besar,” ujar Perry, dalam telekonferensi di Jakarta, Selasa sore.
Dia menjelaskan penuruan impor lebih tinggi dari ekspor dalam kondisi pandemik Covid-19, kemudian ada penurunan jumlah turis yang masuk, namun penggunaan devisa keluar untuk perjalanan seperti umrah dan wisata ke luar negeri juga turun karena ada pembatasan mobilitas manusia.
Selain itu, Perry mengatakan penerbitan obligasi global yang dilakukan Kementerian Keuangan dengan jumlah USD4,3 miliar serta kesepakatan kerja sama repo line BI dengan the Federal Reserve menunjukkan kepercayaan kepada ekonomi Indonesia masih besar.
Sementara itu, Perry mengatakan penerbitan global bond akan menambah arus masuk dari neraca modal dan finansial, sehingga stabilitas eksternal yang diukur melalui neraca pembayaran Indonesia (NPI) akan terjaga.
“Ini landasan kami [memproyeksikan] nilai tukar ke depan akan stabil dan menguat karena BI terus stabilkan cadangan devisa kita,” lanjut dia.
Perry menambahkan dengan adanya global bond tersebut, tidak hanya CAD yang terkendali, tapi neraca modal dan finansial mengalami surplus yang besar serta kepanikan pasar keuangan global akan berangsur mereda.