İqbal Musyaffa
22 Maret 2019•Update: 22 Maret 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia memperkirakan neraca pembayaran Indonesia pada triwulan I tahun ini akan mengalami surplus.
Neraca pembayaran merupakan hasil penjumlahan dari transaksi berjalan dan neraca modal.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pada triwulan I tahun ini defisit transaksi berjalan akan menurun, sementara neraca modal akan mengalami peningkatan surplus yang berasal dari aliran modal asing yang masuk, terutama dalam SBN.
“Neraca Pembayaran Indonesia triwulan I diperkirakan membaik sehingga menopang ketahanan eksternal,” ungkap Perry dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
Perry menjelaskan prediksi tersebut didukung dengan aliran masuk modal asing yang tetap besar, yang sampai dengan Februari 2019 mencapai USD6,3 miliar.
Sementara itu, kata dia, neraca perdagangan mencatat surplus USD0,33 miliar pada Februari 2019 dipengaruhi penurunan impor nonmigas, di tengah ekspor nonmigas yang juga menurun.
“Dengan perkembangan ini, posisi cadangan devisa pada akhir Februari 2019 cukup tinggi yakni 123,3 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor atau 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” urai dia.
Menurut dia, sinergi kebijakan BI dan pemerintah akan terus dipererat guna memperkuat ketahanan eksternal.
Langkah untuk memperkuat ekspor, termasuk peningkatan kinerja sektor pariwisata, dan mengendalikan impor akan terus ditempuh sehingga defisit transaksi berjalan 2019 dapat menuju kisaran 2,5 persen PDB.
Perry menjelaskan BI bersama pemerintah telah berkoordinasi salah satunya untuk meningkatkan devisa yang berasal dari pariwisata pada tahun ini dengan target USD17,6 miliar.
Dia menambahkan devisa dari pariwisata ini sangat penting untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan dan juga menjadi sumber tambahan devisa.
“Kebijakan juga diarahkan untuk menarik aliran modal untuk membiayai defisit transaksi berjalan,” jelas Perry.