Iqbal Musyaffa
22 April 2020•Update: 22 April 2020
JAKARTA
Bank Indonesia mengatakan secara fundamental nilai tukar rupiah masih undervalue sehingga bisa terus menguat.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan fundamental rupiah yang undervalue didorong oleh inflasi yang rendah serta defisit transaksi berjalan yang akan lebih rendah dari 1,5 persen pada kuartal pertama tahun ini.
“Bahkan secara keseluruhan tahun defisit transaksi berjalan bisa lebih rendah dari 2 persen, sehingga terkendali dari perkiraan sebelumnya 2,5-3 persen,” ujar Perry dalam konferensi pers virtual, Rabu.
Kondisi fundamental yang kuat juga mendorong kepercayaan investor untuk kembali menempatkan dananya dalam investasi portofolio di Indonesia.
Dia mengatakan pergerakan rupiah dipengaruhi oleh faktor fundamental yang memengaruhi tren stabilitas rupiah yang terus menguat, serta faktor teknikal yang memengaruhi naik turunnya rupiah dari hari ke hari.
“Pergerakan rupiah secara harian memang karena faktor teknikal,” jelas dia.
Perry mengatakan faktor teknikal banyak disebabkan oleh kondisi saat ini seperti jatuhnya harga minyak dunia akibat perselisihan Arab Saudi dan Rusia, serta masalah geopolitik yang membuat rupiah melemah secara teknikal.
Selain itu, ada juga faktor positif yang memerahui nilai tukar rupiah seperti rencana dibukanya lockdown di beberapa kota di Amerika Serikat dan juga sisi positif penanganan virus korona di Indonesia dengan disetujuinya PSBB di sejumlah daerah.
“Tidak perlu melihat rupiah hari ini melemah, besok naik. Ini sangat berpengaruh dari beberapa faktor teknikal lain,” tambah dia.
Secara keseluruhan, Perry meyakini rupiah masih dalam tren positif secara fundamental sehingga akan terus menguat ke Rp15 ribu pada akhir tahun nanti.
Saat ini nilai tukar rupiah berada di level Rp15.561 per dolar AS.