Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Perkembangan teknologi digital khususnya pada sektor finansial mendapatkan perhatian dan respons cepat dari lembaga penerima dan penyalur donasi khususnya zakat, infak, dan sedekah (ZIS) untuk memperluas cakupan donaturnya dengan menyasar generasi milenial yang melek digital.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) sudah sejak 2016 menyadari pentingnya teknologi digital untuk penyaluran ZIS ini. Deputi Baznas Arifin Purwakananta kepada Anadolu Agency, Senin, mengatakan, Baznas sudah memiliki tiga strategi penghimpunan dana amal melalui digital.
“Pertama kita mengembangkan platform digital kita sendiri melalui web dan aplikasi android Muzaki Corner,” ujar Arifin.
Kemudian, Baznas juga menggandeng lembaga teknologi finansial (tekfin) dan e-commerce untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam penyaluran dana amalnya.
“Ada sekitar 16 lembaga seperti Gopay, Ovo, Kitabisa, Elevenia, dan Shopee untuk menunjang keberhasilan zakat digital,” jelas Arifin.
Selanjutnya, menurut Arifin, Baznas juga merambah penyaluran zakat melalu media sosial seperti Line, Facebook, dan Whatsapp.
Akan tetapi, Arifin mengatakan, saat ini porsi penghimpunan dana ZIS melalui layanan digital masih kecil, baru sekitar 3 persen dari total dana yang terhimpun. Porsi ini meningkat dari sebelumnya hanya 1 persen di tahun 2016. Bila ditambah dengan pola penyaluran ZIS melalui SMS banking ataupun mobile banking, maka porsi dana ZIS cashless mencapai 30 persen.
Pada tahun ini, Baznas menargetkan perolehan dana ZIS sebesar Rp8 triliun atau lebih besar dari tahun lalu yang terkumpul Rp6,24 triliun.
“Semakin banyak orang yang menyalurkan ZIS nya secara cashless tanpa perlu datang ke counter kami,” tambah Arifin.
Pengembangan teknologi digital untuk penghimpunan dana ZIS, menurut Arifin, bukan untuk mengubah perilaku masyarakat dalam beramal. “Tetapi, kita merambah ceruk muzaki ke generasi milenial. Kita tetap sediakan counter untuk pembayaran ZIS secara konvensional,” urai Arifin.

Hal yang sama juga dilakukan oleh lembaga ZIS Rumah Zakat. Chief Technology Officer Rumah Zakat Herry Hermawan mengatakan perkembangan teknologi digital harus direspons dengan baik.
Rumah Zakat juga bekerja sama dengan berbagai lembaga tekfin dan e-commerce. Menurut dia, kedua lembaga ini yang justru mendekat untuk mengajak bekerja sama.
“Sejak itu, kita sadar kalau potensi ini harus dimanfaatkan,” tambah dia.
Herry mengatakan, kerja sama Rumah Zakat dan lembaga digital saling menguntungkan. Para lembaga tekfin dan e-commerce yang bekerja sama dalam penyaluran ZIS akan mendapatkan merchant rate untuk biaya operasional sebesar 1 hingga 1,5 persen dari total dana ZIS yang disalurkan.
Total dana ZIS yang terhimpun melalui layanan digital, menurut Herry, cukup besar sekitar 30 persen dari total dana yang terhimpun. Sebagai gambaran, setiap bulan Rumah Zakat mampu menghimpun Rp20 miliar. Dengan begitu, dana yang terhimpun melalui layanan digital mencapai Rp6 miliar.
Bila ditambah dengan dana yang terhimpun dari layanan online konvensional perbankan, maka jumlahnya mencapai 77 persen.
“Teknologi digital menjadi masa depan. Makanya, kita juga membuat aplikasi dan web bernama sharinghappiness.org untuk semakin mempermudah orang dalam beramal,” jelas Herry.
Sementara itu, Managing Director Gopay Budi Gandasoebrata mengatakan, melalui kerja sama dengan lembaga ZIS, Gopay ingin semakin berperan sebagai jembatan bagi masyarakat untuk mempermudah layanan di lembaga pengelola keuangan, termasuk lembaga pengelola ZIS.
“Langkah ini sekaligus untuk mendukung Gerakan Nasional Non Tunai [GNNT] pemerintah,” ungkap Budi.
Budi menambahkan, ingin memperluas gerakan nontunai termasuk dalam berdonasi. “Kami ingin memperkenalkan donasi nontunai melalui QR Code,” kata Budi.
Budi menjelaskan, dengan memanfaatkan metode ini, pengguna Gopay bisa melakukan sedekah cukup dengan menggunakan menu scan QR yang ada di aplikasi Gojek. Setelah memilih menu tersebut, pengguna Gopay tinggal memindai kode QR milik Baznas atau lembaga ZIS lainnya.
Pada kesempatan terpisah, CEO Tcash Danu Wicaksana mengatakan bahwa pihaknya juga ingin turut memberikan solusi untuk memudahkan masyarakat berdonasi dengan mudah dan cepat.
Tcash mengembangkan dua metode utama, yaitu dengan kode akses *800# yang bisa digunakan dengan fitur telepon, serta scan QR Code yang sudah tersedia di lebih dari 100 masjid di Jakarta, Bandung, dan Purwokerto.
“Kami melihat berbagi telah menjadi budaya yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat. Untuk itu, kita mendorong gaya hidup nontunai termasuk untuk memudahkan masyarakat beramal,” urai Danu.
Kemudahan layanan beramal yang kini sudah tersedia secara digital, juga dirasakan oleh Rendi, 35 tahun, seorang karyawan swasta. Dia mengatakan setiap hari Jumat selalu berusaha untuk bersedekah.
“Sekarang saya hanya perlu membuka smartphone saja untuk bersedekah. Tapi juga bukan berarti saya sama sekali meninggalkan kebiasaan sedekah melalui kotak amal masjid,” aku dia.
Rendi juga mengatakan selalu menggunakan layanan digital berbeda-beda yang ada di gawai cerdasnya untuk bersedekah, atau tidak memiliki satu preferensi khusus untuk beramal.