İqbal Musyaffa
11 Juli 2018•Update: 12 Juli 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia mengatakan meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar masih tertekan, namun depresiasi yang dialami rupiah masih di bawah 5 persen.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah dalam diskusi di Jakarta, Rabu, mengatakan depresiasi rupiah year to date sebesar 3,5 persen, masih lebih baik dibandingkan beberapa negara seperti Argentina dan Turki yang nilai tukarnya tertekan hingga dua digit.
“Yang kita jaga adalah stabilitasnya. Pelemahan ini adalah fenomena global dan kita sudah pernah hadapi dalam beberapa episode di tahun 2008 dan 2013,” jelas Nanang.
Saat ini tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga diperparah adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Menurut dia, tekanan terhadap nilai tukar saat ini tidak hanya terjadi pada negara yang mengalami defisit transaksi berjalan, namun juga yang transaksi berjalannya surplus.
“Sekarang semua negara juga menaikkan suku bunga karena likuiditas global yang ketat. BI juga sudah melakukan langkah pre-emptive dengan menaikkan suku bunga,” tambah dia.
Kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan BI, menurut dia, bukan untuk merespons ekonomi domestik, melainkan sebagai respons dari perekonomian global. BI tetap berupaya menjaga stabilitas nilai tukar dan selalu berada di pasar, bahkan menggunakan cadangan devisa untuk menjaga nilai tukar, kata Nanang.
“Kalau bicara kurs, jangan dilihat nominalnya. Lihat volatilitasnya,” tegas dia.
Nanang juga mengatakan, pada saat rupiah bergerak dari Rp13.900 ke Rp14.000, seolah-olah Indonesia akan menghadapi bencana. Tapi sekarang saat rupiah berada di level Rp14.300 semua berjalan biasa-biasa saja.
“Semua negara juga alami hal yang sama,” lanjut Nanang.
BI pun, kata Nanang, terus berupaya memperbaiki struktur neraca pembayaran. Nanang juga mengimbau agar pelaku usaha yang membutuhkan dolar membelinya sesuai kebutuhan dengan menggunakan underlying yang benar agar tidak menimbulkan kepanikan.
“Kemudian untuk mitigasi risiko, bisa melalui hedging,” tambah dia.