İqbal Musyaffa
03 Mei 2018•Update: 05 Mei 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, Kamis, mengatakan perbaikan ekonomi nasional yang terus terjadi tertutupi dengan dinamika ekonomi global.
“Secara umum Indonesia mengarah pada ekonomi yang membaik tetapi kebaikan-kebaikan yang bisa diraih sedikit tertutup dengan dinamika global yang cukup tinggi,” ungkap Agus usai peluncuran kartu ATM berlogo Gerbang Pembayaran Nasional oleh perbankan nasional di Jakarta.
Dinamika global tersebut, menurut dia, menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus tertekan. Namun Agus berkata kondisi yang sama juga dialami oleh mata uang banyak negara lainnya.
“Kita tetap harus percaya bahwa ekonomi Indonesia baik dan mengarah kepada perbaikan. Kita harus bisa lalui ini dengan baik,” tambah dia.
Agus mengungkapkan secara umum tingkat konsumsi masyarakat membaik. Peningkatan konsumsi, menurut dia, juga didorong oleh program sosial pemerintah seperti bantuan sosial, program keluarga harapan, dana desa, serta bantuan pangan nontunai.
Pelemahan nilai tukar rupiah, kata Agus, lebih karena faktor eksternal. Sementara faktor domestik yang memengaruhi adalah kewajiban untuk melakukan pembayaran ke luar negeri dalam bentuk bunga, dividen, ataupun kewajiban dunia usaha lainnya yang biasa terjadi pada triwulan kedua setiap tahun.
Pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini, menurut Agus lagi, diperkirakan akan menjadi yang terbaik dalam tiga tahun terakhir. Indikasi penguatan ekonomi juga terlihat dari inflasi yang terus terjaga.
Badan Pusat Statistik melansir inflasi pada April hanya 0,1 persen, sementara perkiraan BI sebesar 0,23 persen. BI di seluruh kota akan bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk menjaga inflasi sebelum dan setelah Ramadan.
“Kalau bisa rendah seperti sekarang di kisaran 3 persen, ini menunjukkan indikator ekonomi kita kuat dan akan mengarah pada perbaikan yang sustainable,” tegas Agus.
Agus juga menekankan kepada masyarakat agar tidak menganggap buruk ekonomi Indonesia yang sedang membaik hanya karena adanya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang fleksibel.