İqbal Musyaffa
19 Januari 2018•Update: 19 Januari 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia memperkirakan neraca pembayaran Indonesia pda triwulan ke-4 2017 akan surplus dengan defisit transaksi berjalan yang tetap terkendali.
Surplus tersebut, menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman, ditopang oleh transaksi modal dan finansial, terutama yang bersumber dari investasi langsung dan investasi portofolio.
Namun demikian, kata dia, BI memperkirakan defisit transaksi berjalan sedikit lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sejalan dengan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas dan peningkatan defisit neraca migas dan jasa.
“Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2017 tercatat sebesar 130,2 miliar dolar AS, tertinggi dalam sejarah,” tegas Agusman, Kamis.
Agusman menjelaskan cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai 8,6 bulan impor atau 8,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
“Selain itu juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” tambah dia.
Bank sentral ujar Agusman juga memperkirakan defisit transaksi berjalan pada 2018 masih tetap terkendali dalam batas yang aman meskipun meningkat menjadi 2,0-2,5 persen dari PDB, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi domestik.
Selain itu, bank sentral juga menyatakan bahwa pergerakan rupiah selama 2017 relatif stabil. Untuk keseluruhan tahun 2017, mata uang rupiah secara rata-rata harian relatif stabil dengan mencatat depresiasi tipis sebesar 0,6 persen menjadi Rp13.385 per dolar AS.
“Pergerakan rupiah yang stabil tersebut didukung oleh aliran modal asing ke Indonesia yang cukup signifikan sejalan dengan perkembangan eksternal dan domestik yang positif,” urai Agusman.
Di sisi eksternal, dia menjabarkan, kondisi pasar keuangan global yang relatif kondusif telah mendorong aliran modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kemudian dari sisi domestik, sentimen positif kenaikan credit rating Indonesia, inflasi yang terjaga, dan tingkat imbal hasil penanaman aset keuangan domestik yang kompetitif merupakan faktor yang memengaruhi aliran modal asing ke Indonesia.
“Namun demikian, rupiah sempat mengalami tekanan seiring dengan normalisasi kebijakan moneter, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga, dan rencana reformasi pajak di AS,” Agusman menguraikan.
Pada Desember 2017, Rupiah secara rata-rata harian bergerak relatif stabil atau hanya melemah 0,24 persen (mtm) terutama dipengaruhi oleh faktor musiman di pasar keuangan domestik, yaitu meningkatnya permintaan valas oleh residen untuk keperluan pembayaran utang luar negeri dan impor serta adanya realisasi keuntungan oleh investor nonresiden.
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus mewaspadai risiko ketidakpastian keuangan global dan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai fundamental dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar,” dia menekankan.
Pertumbuhan ekonomi stabil
Bank Indonesia, menurut Agusman, juga memperkirakan ekonomi Indonesia pada triwulan ke-4 2017 tumbuh stabil dan akan meningkat pada 2018.
Pada triwulan IV 2017, dia melihat kinerja ekspor diperkirakan lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya di tengah pertumbuhan impor, terutama migas, yang masih cukup tinggi.
Dari sisi permintaan domestik, dia mengatakan investasi membaik ditopang proyek infrastruktur pemerintah dan peran investasi swasta yang terus meningkat. Sementara itu, perbaikan konsumsi diperkirakan belum cukup kuat.
“Dengan perkembangan tersebut, untuk keseluruhan 2017, perekonomian domestik diperkirakan tumbuh sekitar 5,1 persen,” ujar Agusman.
Pada 2018, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan membaik yang bersumber dari menguatnya permintaan domestik sejalan dengan peningkatan investasi, konsumsi rumah tangga, dan stimulus fiskal.
“Sementara itu, ekspor diperkirakan tetap tumbuh positif seiring dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi global dan harga komoditas yang masih tinggi,” jelas dia.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi 2018 diperkirakan meningkat pada kisaran 5,1-5,5 persen.
Inflasi terkendali
Terkait inflasi 2017, menurut Bank Indonesia masih terkendali pada level yang rendah.
Inflasi IHK bulan Desember 2017 tercatat sebesar 0,71 persen (mtm), sehingga secara keseluruhan tahun inflasi 2017 mencapai 3,61 persen (yoy).
“Dengan perkembangan ini, inflasi dalam tiga tahun terakhir secara konsisten berhasil dikendalikan dalam kisaran sasaran,” ungkap dia.
Terkendalinya inflasi 2017, menurut dia, didorong oleh rendahnya inflasi inti dan inflasi volatilitas harga pangan serta terkelolanya dampak kenaikan berbagai tarif dalam inflasi administered prices.
Selain itu, kata dia, terkendalinya inflasi 2017 juga didukung oleh faktor positif permintaan dan penawaran, rendahnya tekanan dari eksternal, serta koordinasi kebijakan yang kuat antara BI dan pemerintah di pusat maupun daerah.
Selanjutnya BI memperkirakan inflasi kembali berada pada sasaran inflasi 2018, yaitu 3,5 plus minus 1 persen. Meski demikian, BI akan terus mewaspadai risiko kenaikan inflasi.
“Untuk itu, koordinasi kebijakan antara Bank Indonesia dengan Pemerintah, baik Pusat maupun Daerah, dalam pengendalian inflasi akan terus diperkuat,” pungkas Agusman.