İqbal Musyaffa
07 Februari 2018•Update: 08 Februari 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menyambut baik hasil penilaian Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) yang menyebut perekonomian Indonesia terus menunjukkan kinerja yang baik dengan pertumbuhan di atas 5 persen.
Penilaian tersebut terdapat dalam Laporan Konsultasi Artikel IV untuk Indonesia tahun 2017 yang dibahas dalam pertemuan dewan direksi IMF Januari lalu.
IMF memprediksi pada tahun ini ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,3 persen. Bahkan menurut lembaga tersebut, ekonomi Indonesia bisa tumbuh hingga 6,5 persen pada 2022 mendatang dengan reformasi struktural yang akan meningkatkan produktivitas.
Reformasi struktural juga dianggap IMF dapat menarik investasi untuk pembiayaan pembangunan.
Akan tetapi, IMF juga mengingatkan Indonesia untuk memperhatikan beberapa hal, seperti penerimaan pajak yang masih tidak sesuai target karena dianggap dapat memengaruhi kemampuan pemerintah untuk membiayai pembangunan.
“Penilaian IMF sesuai dengan kajian BI yang meyakini ketahanan ekonomi Indonesia semakin kuat,” ujar Agus di Jakarta, Rabu.
Salah satu indikator kuatnya ekonomi Indonesia adalah kemampuan menjaga inflasi pada level rendah. Tahun 2017 inflasi tercatat di angka 3,61 persen. Inflasi yang terjaga rendah dan stabil, menurut dia, dapat memberikan suasana kondusif bagi momentum pemulihan ekonomi.
Agus mengatakan, pertumbuhan ekonomi tahun 2017 sebesar 5,07 persen ditopang oleh perbaikan investasi infrastruktur pemerintah dan peran investasi swasta.
Membaiknya ketahanan ekonomi yang ditandai dengan neraca transaksi berjalan yang sehat dan aliran masuk modal asing yang tinggi, serta nilai tukar rupiah yang stabil juga menjadi faktor penopang lainnya.
Bank sentral juga memandang terdapat peluang untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Selain itu, Agus mengatakan IMF juga memberikan catatan terkait kenaikan suku bunga yang dapat meningkatkan risiko pada pendanaan. Hal tersebut karena kecenderungan ekonomi global ke depannya akan mengarah pada kenaikan suku bunga sebagai upaya pemulihan ekonomi.
Meski begitu, BI tetap mempertahankan 7 days repo rate sebesar 4,25 persen untuk menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan dalam upaya melakukan perbaikan perekonomian.
“Kita terus mengikuti dan mendalami di bulan Februari ini. Walaupun AS sudah 5 kali menaikkan suku bunga, Indonesia dalam dua tahun sudah delapan kali menurunkan rate,” jelas dia.
Keputusan tetap mempertahankan 7days repo rate di angka tersebut menurut dia masih sejalan dengan upaya pemulihan ekonomi Indonesia.
“Bahkan kita mendukung dengan kebijakan monter melalui GWM averaging [Giro Wajib Minimum rata-rata], rasio intermediasi makro prudensial, dan penyangga likuditas makro prudensial,” urai Agus.