Iqbal Musyaffa
15 November 2017•Update: 16 November 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
International Monetary Fund (IMF) menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih baik dengan proyeksi 5,1 persen. Meski, angka ini turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,2 persen seperti yang dirilis IMF dalam laporan World Economic Outlook bertajuk Seeking Sustainable Growth: Short-Term Recovery, Long-Term Challenges Oktober lalu.
Ketua Tim Perwakilan IMF Luis E. Breuer memetakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan diperkirakan akan lebih baik dengan angka proyeksi 5,3 persen.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia terus membaik karena didukung oleh kehati-hatian dalam kebijakan makro ekonomi,” ungkap Breuer dalam siaran pers pada Rabu.
Pertumbuhan Indonesia, menurut dia, juga disokong oleh pertumbuhan ekonomi global dan peningkatan harga komoditas.
“Indonesia juga berupaya memperkuat daya saing,” tambah dia.
Peningkatan ekspor dan investasi menurut dia juga menjadi salah satu pendorong pertumbuhan. Lemahnya permintaan domestik diharapkan dapat digerek seiring dengan pertumbuhan kredit.
Breuer juga mengatakan inflasi akhir tahun akan bertahan rendah di kisaran 3,7 persen dan pada tahun depan sedikit lebih rendah menjadi 3,6 persen.
Inflasi ini terjaga dengan stabilnya harga pangan dan harga-harga yang telah ditetapkan pemerintah. Selanjutnya, Breuer juga mengatakan defisit transaksi berjalan Indonesia diharapkan tetap di kisaran 1,7 persen dari PDB pada tahun ini dan 1,9 persen pada tahun depan dengan surplus neraca pembayaran keseluruhan.
Akan tetapi, dia mengingatkan, Indonesia harus mengantisipasi faktor eksternal, terutama pembalikan arus masuk modal, pelambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok, serta ketegangan geopolitik.
Sementara faktor internal yang harus diwaspadai adalah kurangnya pendapatan pajak dan pengaruh kondisi keuangan global yang dapat mendorong tingkat suku bunga domestik.
"Campuran kebijakan jangka pendek harus menyeimbangkan tujuan yang mendukung pertumbuhan, sementara pada saat yang sama tetap menjaga stabilitas pertumbuhan,” ungkap dia.
Kebijakan fiskal, menurut dia, perlu dirancang secara tepat untuk membangun kembali penyangga fiskal dengan menargetkan defisit anggaran yang lebih rendah pada tahun 2018.
Kebijakan moneter juga harus terus bisa menjaga stabilitas harga sambil mendukung pertumbuhan.
“Sikap moneter saat ini sangat tepat,” ujar dia.
Breuer juga mengimbau Bank Indonesia terus membiarkan nilai tukar bergerak bebas, sejalan dengan kekuatan pasar.