Umar Idris
28 Januari 2021•Update: 28 Januari 2021
JAKARTA
Bursa saham Indonesia, yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pada hari ini longsor cukup dalam ke level di bawah 6.000, mengutip data otoritas Bursa Efek Indonesia.
Pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis sore pukul 16.00 WIB, IHSG ditutup di posisi 5.979, turun 129,78 poin atau 2,12 persen dari posisi kemarin.
Pada sesi kedua perdagangan hari ini, pada pukul 13.35 WIB, IHSG tumbang ke level 5.994 dari sebelumnya 6.023 pada akhir perdagangan sesi I.
Total volume transaksi bursa hari ini sebesar 16,75 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 16,24 triliun. Sebanyak 427 saham turun harga, hanya 81 saham menguat dan 118 saham flat.
Sektor tambang turun paling dalam, yakni hingga 4,34%. Sektor infrastruktur melemah 3,94%. Sektor industri dasar melemah 3,29%. Sektor konstruksi dan properti melemah 3,10%.
Danny Eugene, analis Mega Sekuritas, seperti dikutip dari situs resminya, pada Kamis, mengatakan salah satu penyebab penurunan IHSG belakangan ini adalah langkah the International Monetary Fund (IMF) merevisi tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2020 hingga 2022. Akibatnya IHSG mengalami koreksi belakangan ini.
Dalam laporan World Economic Outlook terbaru IMF merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 menjadi -1.9% YoY dari sebelumnya -1.5% YoY dan tahun 2021 menjadi +4.8% YoY dari sebelumnya +6.1% YoY. Berita baiknya untuk tahun 2022 proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia naik menjadi +6.0% YoY dari sebelumnya +5.3% YoY.
Revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ini ditanggapi negatif oleh investor karena IMF melakukan revisi ke bawah untuk Indonesia sementara untuk ekonomi global IMF justru melakukan revisi ke atas. Tingkat pertumbuhan ekonomi Global 2021 naik menjadi +5.5% YoY dari sebelumnya +5.2% YoY.
IHSG pada perdagangan Rabu (27/1) kemarin mengalami penurunan sebesar -0.50% ke level 6,109.