İqbal Musyaffa
27 Februari 2018•Update: 28 Februari 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pertumbuhan ekonomi Indonesia, menurut Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), merupakan cerminan dari tren pertumbuhan ekonomi yang positif di seluruh kawasan ASEAN.
“Indonesia dapat membanggakan progres pertumbuhan yang telah diraih,” ungkap Managing Director IMF Christine Lagarde dalam konferensi tingkat tinggi IMF-Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Selasa.
IMF mengapresiasi penurunan level kemiskinan di Indonesia hingga 40 persen. Tingkat harapan hidup di Indonesia juga meningkat lebih dari enam persen, serta tingkat partisipasi masyarakat yang bersekolah juga tumbuh lebih dari 250 persen.
Di tengah ketidakstabilan kondisi ekonomi global, IMF memperkirakan ekonomi Indonesia pada tahun ini tumbuh di kisaran 5,3 persen sementara ekonomi global diharapkan dapat tumbuh 3,9 persen.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan sebesar 3,9 persen merupakan suatu peluang besar yang dapat dimanfaatkan Indonesia dalam meningkatkan ekspor impor, investasi, dan konsumsi.
“Gubernur BI juga mengatakan defisit transaksi berjalan kita berkurang dan masih dalam batas aman. Ini bagus dibandingkan negara-negara Eropa,” ungkap Menteri Sri.
Pemerintah, menurut Menteri Sri, juga terus melakukan berbagai reformasi kebijakan untuk mempermudah masuknya investasi. Dia meyakini langkah pemerintah saat ini masih berada di jalan yang benar.
Sementara itu, Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen oleh IMF merupakan bentuk kepercayaan lembaga tersebut terkait kondisi perekonomian Indonesia.
Meskipun kondisi ekonomi global di ambang ketidakpastian, namun dia mengatakan perekonomian Indonesia dapat bertahan karena memiliki fundamental ekonomi yang relatif kuat.
Dia menjelaskan cadangan devisa Indonesia saat ini sebesar USD132 miliar, atau cukup untuk membiayai 8,2 bulan impor.
Volatilitas nilai tukar rupiah juga masih berada dalam kondisi yang wajar dengan tingkat volatilitas di kisaran 7-8 persen, kata Agus. Volatilitas nilai tukar, menurut dia, banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal.