Muhammad Nazarudin Latief
JAKARTA
Ekspor Indonesia ke Turki dan negara-negara pasar non-tradisional lainnya meningkat pada 2017 lalu.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, dibanding tahun lalu, ekspor ke Turki naik 14,16 persen.
Ekpor ke Turki didominasi barang serat staple buatan, filament buatan, strip dan sejenisnya dari bahan tekstil kemudian karet, dengan nilai USD1,169 miliar.
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Iman Pambagyo mengatakan, Indonesia-Turki sudah memulai putaran pertama perundingan Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA).
Tahun ini, kedua negara menetapkan target untuk menyelesaikan perundingan dalam perdagangan barang (trade in goods).
“Penyelesaian perjanjian perdagangan barang merupakan awal dari kesepakatan yang lebih komprehensif,” ujar Iman di Jakarta, Rabu.
Menurut Iman, IT-CEPA akan meningkatkan nilai ekspor Indonesia ke Turki secara signifikan dengan mengeliminasi hambatan perdagangan kedua negara, baik hambatan tarif maupun non-tarif.
Turki merupakan negara tujuan ekspor nonmigas ke-28 dan negara asal impor nonmigas ke-34 bagi Indonesia pada tahun 2016. Produk ekspor utama Indonesia ke Turki pada 2016 adalah adalah karet, tekstil, bubuk kayu, kertas, konduktor, motor, dan kimia asam stearat.
Produk impor utama Indonesia dari Turki pada 2016 adalah tembakau, gandum, jagung, marmer, lemon, barang elektronik, karpet, dan pakaian. Nilai investasi Turki di Indonesia pada tahun 2016 mencapai nilai USD2,7 juta.
Sementara itu, ekspor Indonesia juga naik ke Mesir (12,66 persen) dan Brazil (5,8 persen).
“Harus kita akui ini masih kecil. Tapi ini ada pergerakan, perluasan ke pasar non-tradisional,” ujar dia, Senin.
Ekspor ke Mesir didominasi lemak dan minyak hewani atau nabati, serat staple buatan, dan rempah-rempah lainnya dengan nilai USD1,251 miliar.
Ekspor ke Brazil didominasi lemak dan minyak hewani, karet dan staple buatan, dengan nilai USD1,229 miliar.
Indonesia ternyata juga memiliki perdagangan dengan Israel dengan nilai USD126,3 juta selama 2017. Barang yang diekspor antara lain lemak dan minyak hewani, karet, dan alas kaki.
Menurut Suhariyanto, nilai ekspor Indonesia pada 2017 mencapai USS169 miliar atau meningkat 16,22 persen dibanding tahun 2016.
Secara umum, neraca perdagangan pada 2017 juga surplus sebesar USD11,84 miliar, naik dari 2016 yang hanya USD9,53 miliar.
Ekspor ini didominasi produk-produk non-migas yang mencapai 90,67 persen, yang terdiri dari industri pengolahan (74,10 persen), tambang (14,39 persen), dan pertanian (2,18 persen).
Menurut Suhariyanto, daerah asal barang ekspor ini didominasi oleh tiga provinsi, yaitu Jawa Barat (17,29 persen), Jawa Timur (10,92 persen), dan Kalimantan Timur (10,45 persen).
“Dari Jawa Barat itu kendaraan dan bagiannya, mesin serta peralatan listrik. Kalau dari Jatim itu perhiasan dan CPO, sedangkan dari Kaltim itu batubara dan CPO,” ujar dia.
Sementara negara tujuan ekspor masih didominasi Tiongkok, Jepang, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan negara-negara ASEAN.
news_share_descriptionsubscription_contact

