Muhammad Nazarudin Latief
16 Januari 2018•Update: 16 Januari 2018
Muhammad Nazarudin Latief
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai tren kenaikan harga minyak bumi dunia yang bisa menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri dan membuat inflasi melambung.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, rata-rata perkembangan harga minyak dunia pada November-Desember 2017 sudah mencapai USD59,34-60,90 per barel.
Menurut Suhariyanto, tren kenaikan harga ini kemungkinan akan berlanjut pada tahun ini, sehingga perlu berbagai antisipasi dari pemerintah karena sudah berada di angka asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN).
“Kenaikan harga minyak bumi itu prospek ekonomi, tapi kita harus antisipasi berbagai risiko,” ujar Suhariyanto, Senin.
Kenaikan harga minyak mentah dunia ini, lanjut Suhariyanto, memengaruhi neraca perdagangan nasional. Ini karena impor migas tergolong besar meski porsinya tidak sebesar impor produk nonmigas.
BPS mencatat, nilai impor migas pada Desember 2017 mencapai USD2,55 miliar atau naik 15,89 persen dibanding bulan sebelumnya. Angka ini bahkan naik 50,10 persen dibanding tahun 2016.
Peningkatan impor dipicu naiknya seluruh komponen migas, yaitu minyak mentah sebesar USD279,4 (52,97 persen), hasil minyak sebesar USD69,3 juta (4,97 persen), dan gas sebesar USD1,5 juta (0,53 persen).
Menurut Suhariyanto, impor migas ini juga yang membuat perdagangan Indonesia defisit pada Desember 2017 hingga USD0,27 miliar. Defisit impor migas mencapai USD1,04 miliar, meski sudah ada surplus ada sektor nonmigas sebesar USD0,774 miliar.
“Ini kita harus hati-hati, karena harga minyak menunjukkan tren naik,” ujar dia.
Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti mengatakan bobot BBM dalam menentukan inflasi cukup besar, hampir mencapai tiga persen.
Artinya, jika ada kenaikan harga BBM akan langsung berpengaruh pada inflasi.
“Jika ada kenaikan harga minyak bumi, tarif listrik dan transportasi juga terpengaruh. Maka kami minta agar dijaga,” ujar dia.