Iqbal Musyaffa
17 Februari 2020•Update: 18 Februari 2020
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan bahwa kinerja ekspor Indonesia pada Januari 2020 lebih rendah bila dibandingkan dengan kinerja ekspor pada Desember 2019 dan Januari 2019.
Pada Januari 2020 ekspor Indonesia sebesar USD13,41 miliar, turun 7,16 persen dari Desember 2019 yang mencapai USD14,45 miliar.
Sementara itu, bila dibandingkan dengan ekspor pada Januari 2019 terjadi penurunan sebesar 3,71 persen dari nilai USD13,93 miliar.
Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan kinerja ekspor pada Januari terdiri dari ekspor migas sebesar USD0,81 miliar dan nonmigas USD12,61 miliar.
“Seluruh sektor ekspor pada Januari mengalami penurunan secara month to month,” kata dia dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Suhariyanto menjabarkan ekspor migas secara bulanan turun 28,73 persen sementara secara tahunan turun 34,73 persen.
Selanjutnya ekspor pertanian pada Januari sebesar USD0,3 miliar turun 20,24 persen dari Desember 2019 akibat adanya penurunan ekspor sarang burung, buah-buahan tahunan, hasil hutan bukan kayu lainnya, dan biji kakao.
Akan tetapi, ekspor pertanian secara tahunan alami peningkatan 4,54 persen dengan meningkatkan ekspor buah-buahan tahunan, sarang burung, tanaman obat aromatik, dan rempah-rempah.
Untuk ekspor industri pengolahan pada Januari sebesar USD10,52 miliar mengalami penurunan 3,13 persen secara bulanan dan secara tahunan meningkat 3,16 persen akibat peningkatan ekspor besi baja, logam dasar mulia, tembaga, dan bubur kertas.
“Untuk ekspor pertambangan pada Januari mengalami penurunan baik secara bulanan maupun tahunan,” kata Suhariyanto.
Dia menjelaskan ekspor pertambangan turun 14,14 persen secara bulanan dan secara tahunan turun 19,15 persen.
Ekspor pertambangan yang turun antara lain batu bara, bijih tembaga, bijih logam lainnya, dan lignit.
“Kemudian sejak Januari ada penghentian ekspor bijih nikel sehingga memengaruhi ekspor pertambangan,” imbuh Suhariyanto.