Muhammad Nazarudin Latief
JAKARTA
Pasar ekspor nontradisional Indonesia terus tumbuh, seiring realisasi perjanjian perdagangan dan akses dengan negara-negara tujuan baru, demikian kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto pada Rabu.
Perkembangan positisnya, kata Suhariyanto, ada negara-negara nontradisional yang menunjukan perkembangan signifikan meskipun kontribusi ekspor masih kecil, hanya di bawah 1 persen.
“Jadi kita perlu identifikasi barang-barang yang diekspor ke negara tesebut untuk dikembangkan,” ujar dia.
Misalnya nilai ekspor ke Turki yang menunjukan peningkatan dari waktu ke waktu. Oktober ini, nilainya USD 91 juta, naik 7,68 persen dibanding bulan lalu dan 10,16 persen year on year (yoy). Total ekspor tahun ke negara ini mencapai USD 930,7 juta dan diperkirakan akan naik terus.
Komoditas utamanya adalah serat staple buatan, filament buatan, karet dan barang dari karet, lemak dan minyak nabati serta berbagai produk kimia. Ada juga ekspor kendaraan, kertas, plastik, alas kaki, bubur kertas, mesin dan sabun.
Kedua negara ini kini sedang mulai merundingkan Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-T CEPA) yang akan dimulai dengan perundingan Trade in Goods (TIG). Targetnya adalah volume perdagangan sebesar USD 10 miliar pada 2023.
Indonesia berkepentingan meningkatkan daya saing di pasar Turki dan mengejar ketertinggalan dari negara lain yang telah memiliki perjanjian dagang terlebih dahulu. Turki adalah salah satu pasar terbesar dan bisa menjadi hub ke Afrika dan Eropa.
Negara berikutnya adalah Brazil dengan nilai ekspor pada Oktober mencapai USD 79,8 juta, naik 14,51 persen dibanding bulan lalu dan 13,54 persen yoy. Total nilainya tahun ini mencapai USD 1,02 miliar.
Barangnya antara lain lemak dan minyak nabati, karet, serat staple buatan, kendaraan dan mesin. Dalam jumlah kecil diekspor juga kain tenun berlapis dan pakaian jadi bukan rajutan.
Berikutnya adalah Afrika Selatan dengan nilai ekspor bulan ini USD 65,7 juta. Total dalam tahun ini nilai ekspornya mencapai USD 587,6 juta.
Secara umum, kata Suhariyanto, nilai ekspor pada Oktober mencapai USD 15,09 miliar atau meningkat 3,62 persen dibanding ekspor September 2017 dan 18,39 persen yoy.
Ekspor nonmigas Oktober mencapai USD 13,67 miliar, naik 4,22 persen dibanding September dan naik 17 persen yoy
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Oktober 2017 mencapai US$138,46 miliar atau meningkat 17,49 persen yoy. Sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$125,58 miliar atau meningkat 17,26 persen yoy.
news_share_descriptionsubscription_contact

