İqbal Musyaffa
26 Februari 2019•Update: 26 Februari 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indonesia akan mengatur jumlah ekspor karet alam serta langkah kebijakan lainnya guna mengatasi harga komoditas ini yang berada pada level terendah sepanjang 2018 hingga awal 2019.
Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemerintah juga akan mendorong penggunaan karet alam untuk industri di dalam negeri dan melakukan peremajaan (replanting) karet alam.
“Rendahnya harga karet akibat adanya sentimen negatif dari pasar serta ketidakpastian ekonomi global,” jelas Menko Darmin dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Menko Darmin mengungkapkan tiga kebijakan tersebut merupakan keputusan dari Special Ministerial Committee Meeting of the International Tripartite Rubber Council (ITRC) yang diinisiasi tiga negara produsen karet, yakni Indonesia, Malaysia, dan Thailand, pada 22 Februari 2019 di Bangkok, Thailand.
“Dengan mengimplementasikan ketiga kebijakan ini secara konsisten, maka harga diharapkan dapat naik di pasaran,” ungkap Menko Darmin.
Menko Darmin juga menegaskan kembali pentingnya implementasi Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) atau kebijakan pembatasan ekspor sebagai instrumen yang efektif menyelesaikan persoalan ketidakseimbangan stok di pasar global.
Menurut dia, ITRC memutuskan penerapan AETS untuk mengurangi ekspor dari ketiga negara tersebut sebesar 200-300 ribu Metric Ton (MT), untuk jangka waktu tiga bulan ke depan.
Menko Darmin menambahkan para menteri dalam ITRC kemudian menginstruksikan kepada Senior Official Meeting (SOM) ITRC untuk membahas poin-poin implementasi AETS pada 4 Maret 2019 mendatang di Thailand.
“Implementasi AETS perlu dilanjutkan dengan mekanisme Demand Promotion Scheme (DPS) guna meningkatkan konsumsi domestik secara signifikan di masing-masing negara,” tegas dia.