JAKARTA (AA) – Indonesia perlu mempersiapkan rencana dan strategi matang dalam perdagangan bebas jelang penandatanganan kesepakatan kerja sama Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) akhir pekan ini.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan RCEP memang akan memberikan peluang peningkatan ekspor barang dan jasa serta investasi.
“Tapi, peluang ini bukan pemberian. Harus ada strategi yang dipersiapkan,” jelas Faisal kepada Anadolu Agency, Jumat.
Dia mengatakan strategi tersebut diperlukan karena perjanjian kerja sama tersebut juga memiliki tantangan pada meningkatnya arus impor dari negara-negara anggota RCEP.
Faisal mengatakan pemerintah perlu menyingkronisasi strategi menghadapi RCEP kepada pelaku usaha hingga pemerintah daerah.
“Sosialisasi yang perlu dilakukan pemerintah tidak hanya terkait manfaat dan peluang RCEP saja, tapi juga termasuk item apa yang disepakati, konsekuensinya, penyesuaian kebijakan, manpower, dan lainnya,” urai Faisal.
Dia menambahkan pemerintah perlu merangkul dunia usaha agar bisa mengikuti strategi dalam menangkap peluang dalam RCEP.
“Ini harus lintas sektoral karena melibatkan banyak kementerian teknis lainnya,” tambah Faisal.
Dia mengatakan pemerintah harus mengambil pelajaran dari implementasi CAFTA yang membuat neraca perdagangan Indonesia dengan China mengalami defisit besar.
Kondisi serupa juga dialami oleh negara-negara ASEAN lainnya yang justru kebanjiran banyak produk impor dari China.
Hati-hati lonjakan impor
Ekonom Senior dari Economic Cooperation and Integration among Developing Countries (ECIDC), UNCTAD, Rashmi Banga mengatakan perjanjian perdagangan bebas seperti RCEP bisa membatasi kebijakan dan ruang fiskal negara berkembang.
Menurut dia, dengan asumsi tarif semua produk dihapuskan antara negara RCEP, maka sebagian besar negara ASEAN akan mengalami kenaikan impor.
Negara berkembang lebih rentan dan diperkirakan akan terkena pukulan lebih keras dan akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk pulih.
“Negara-negara ASEAN hanya dapat memperoleh manfaat dari RCEP jika mereka benar-benar dapat menggunakan potensi rantai nilai regional yang terhubung dengan rantai nilai global."
Setelah implementasi RCEP, Indonesia diperkirakan mengalami peningkatan impor dari negara-negara anggota hingga USD101,9 miliar.
Sebelum implementasi RCEP, impor Indonesia dari negara-negara anggota sebesar USD100,5 miliar.
Ekspor Indonesia setelah RCEP diperkirakan hanya tumbuh sebesar USD997,7 juta menjadi USD91,96 miliar.
Salah seorang pengusaha tekstile Indonesia, Ian Syarif pemilik PT Sipata Moda mengatakan RCEP akan meningkatkan kemungkinan aktivitas transshipment.
Yaitu barang asal Indonesia dikirim ke negara-negara RCEP dengan tarif nol namun akhirya diekspor kembali ke Indonesia dengan fasilitas trade remedies, ujar dia.
“Kami rasa sulit untuk mundur dari perjanjian ini, kami sudah mencoba tetapi pemerintah sudah menutup perdebatan soal ini," tambah dia dalam siaran pers.
Menurut dia RCEP hanya akan memberikan keuntungan maksimal bagi negara terorganisir seperti China yang hanya fokus pada efisiensi industri.
Sebelumnya Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan bahwa perundingan antara 10 negara anggota ASEAN dan 5 mitranya tentang RCEP sudah selesai.
Perjanjian ini akan ditandatangani pada pekan ini, Minggu, 15 November.
news_share_descriptionsubscription_contact
