Muhammad Nazarudin Latief
15 Maret 2018•Update: 15 Maret 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia terus menerus mengandalkan tiga negara yaitu Tiongkok, Amerika Serikat (AS) dan Jepang sebagai tujuan ekspor non-migas terbesar, demikan data dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pangsa pasar ketiga negara tersebut sebesar 36,3 persen dari total ekspor.
Ekspor ke Tiongkok pada Februari tercatat USD2,06 miliar, disusul Amerika Serikat (AS) USD1,29 miliar dan Jepang USD1,27 miliar.
“Nilai ekspor satu dari tiga tersebut lebih besar dari ekspor ke Uni Eropa yang anggotanya 28 negara, hanya USD1,4 miliar ”ujar Suhariyanto saat paparan kinerja ekspor-impor Februari di Jakarta, Kamis.
Kecuali Tiongkok yang naik USD143,7 juta (7,4 persen), kinerja ekspor dibanding Januari ke dua negara utama ini turun. Ke Amerika turun USD254,9 juta atau 16,5 persen. Sementara ke Jepang turun USD119,4 juta atau 8,62 persen.
Secara keseluruhan, ekspor ke negara-negara pasar tradisional produk Indonesia seperti India, Thailand, Jerman, Australia, Malaysia, Korea Selatan, Belanda, Taiwan turun hingga 5,2 persen.
“Perluasan pasar ekspor non tradisional diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah,” ujar Suhariyanto.
Kebijakan proteksionisme Presiden AS Donal Trump, menurut Suhariyanto sudah mulai berimbas pada kinerja ekspor ke negara tersebut.
Meski nilai ekspor bijih besi dan baja dari Indonesia masih kecil. Namun, untuk ekspor lemak dan minyak nabati sudah turun hingga 48 persen.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira mengatakan banyak pasar yang belum digarap maksimal, seperti Afrika Utara dan Selatan, Eropa Timur, Rusia serta Timur Tengah.
Solusi untuk menggenjot ekspor adalah dengan meningkatkan nilai tambah produk ekspor melalui industrialisasi komoditas.
“Mulai diubah, ekspor Crude Palm Oil menjadi produk jadi,” ujar dia.
Selain itu, menurut Bhima pemerintah juga harus melakukan stabilitasi rupiah. Karena nilai rupiah yang rendah maka nilai impor bahan baku dan barang modal akan naik signifikan dan membenani pelaku ekspor.
Selain itu, perlu dilakukan strategi pembuatan industri substitusi bahan baku impor, agar industri dalam negeri tidak bergantung pada bahan baku impor dalam jangka menengah.