İqbal Musyaffa
31 Mei 2018•Update: 31 Mei 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Penyesuaian suku bunga perbankan setelah kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia tidak akan signifikan, kata praktisi perbankan, Kamis. Saat ini, suku bunga acuan BI sebesar 4,75 persen setelah kembali naik 25 bps pada Rabu.
"Penyesuaian suku bunga perbankan akan sangat variatif tergantung pada efisiensi yang dilakukan perbankan, risiko kreditnya, serta likuiditas perbankan," kata Vice President Economist Bank Permata Josua Pardede kepada Anadolu Agency melalui telepon, Kamis.
Josua melihat ketiga indikator tersebut pada perbankan saat ini relatif baik, sehingga penyesuaian suku bunga perbankan tidak akan besar dan juga tidak linear dengan kenaikan suku bunga acuan BI yang telah naik 50 bps dalam satu bulan.
“Penyediaan likuiditas oleh BI akan sangat berpengaruh pada suku bunga perbankan. BI sudah menjamin likuiditas aman sehingga penyesuasain suku bunga di perbankan akan lebih terukur,” ungkap dia.
Selain itu, dia juga melihat perbankan sudah mulai efisien dalam operasionalnya. Selain itu, risiko kredit juga lebih rendah dari tahun lalu. Pada tahun ini risiko kredit berada di kisaran 2,7-2,8 persen, sementara risiko kredit tahun lalu sebesar 3 persen.
Meskipun akan ada penyesuaian suku bunga perbankan, Josua mengatakan tidak akan berpengaruh pada konsumsi masyarakat.
“Kita harap kebijakan fiskal pemerintah bisa memberikan stimulus pada ekonomi,” ujar Josua.
Kebijakan fiskal seperti pemberian bantuan sosial dan program padat karya tunai akan terus didorong pemerintah sehingga konsumsi rumah tangga akan tetap meningkat di tengah terjaganya daya beli masyarakat.
Josua juga sependapat dengan BI bahwa dampak kenaikan suku bunga acuan terhadap perekonomian baru akan terasa setelah empat hingga enam triwulan.
Sementara, dampak stabilitas rupiah akan terasa dalam waktu satu triwulan. Sehingga, kenaikan suku bunga acuan oleh BI menurut dia tepat.