İqbal Musyaffa
31 Juli 2018•Update: 01 Agustus 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Ekonom memproyeksikan suku bunga kebijakan Bank Indonesia dapat naik hingga 5,75 hingga akhir tahun dari 5,25 persen saat ini.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah Redjalam mengatakan asumsi tersebut dapat dicapai dengan catatan ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok tidak memburuk.
“Suku bunga acuan pada level itu diyakini masih cukup kondusif bagi perbankan,” ujar Piter dalam diskusi di Jakarta, Selasa.
Selain itu, kata dia, pertumbuhan penyaluran kredit perbankan diproyeksikan akan berkisar 11 persen.
Kenaikan suku bunga hingga kemungkinan mencapai level 5,75 persen, menurut Piter, sebagai langkah untuk merespons perkembangan ekonomi global dan domestik pada semester II.
“Kenaikan suku bunga juga untuk mempertahankan interest rate differential sehingga bisa mengurangi tekanan arus modal keluar,” lanjut dia.
Tekanan arus modal keluar, kata Piter, masih akan terjadi selama semester II tahun ini.
The Fed juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan pada September dan Desember mendatang, tambah dia.
Investor, menurut dia, akan mengalihkan investasinya ke aset-aset yang lebih aman sebagai kekhawatiran atas dampak negatif dari perang dagang AS dan Tiongkok.
“Dalam satu semester ke depan, ketegangan perdagangan masih akan berlangsung dan ketidakpastian ekonomi global masih akan membayangi,” urai Piter.
Lebih lanjut, Piter mengatakan peningkatan suku bunga BI pada Juni sebesar 100 basis poin menjadi 5,25 persen menjadi sinyal dari pengetatan moneter setelah sebelumnya suku bunga berada pada level terendahnya dalam sejarah suku bunga acuan di level 4,25 persen.
“Meskipun saat ini peningkatan BI rate belum memengaruhi peningkatan suku bunga perbankan, namun dalam waktu dekat suku bunga perbankan diperkirakan akan ikut menyesuaikan,” jelas dia.