İqbal Musyaffa
16 April 2018•Update: 16 April 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Ekonomi Indonesia terus menunjukkan aktivitas yang menggeliat.
Hal ini berdasarkan pemaparan data APBN yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani di Jakarta, Senin
Menurut Menteri Sri, total penerimaan negara selama triwulan pertama tahun ini mencapai Rp333,77 triliun atau 17,6 persen dari target penerimaan Rp1.894 triliun sepanjang tahun ini.
“Penerimaan dari pajak dan bea cukai mencapai Rp262,41 triliun dan penerimaan nonpajak sebesar Rp71,09 triliun dan hibah Rp260 miliar,” ungkap Menteri Sri.
Penerimaan dari sektor pajak pada tahun ini menurut dia tumbuh 10,3 persen dari periode sama di tahun lalu. Sementara penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tumbuh 22,2 persen, dan hibah tumbuh 78,1 persen.
“Penerimaan pajak yang berasal dari sektor ekonomi utama tumbuh double digits,” ujar Menteri Sri.
Pajak yang berasal dari industri pengolahan tumbuh 16,72 persen dari periode yang sama tahun lalu dengan total Rp63,91 triliun. Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dari pertumbuhan tahun 2017 terhadap 2016 sebesar 8,3 persen.
Sektor perdagangan juga mencatatkan pertumbuhan 28,64 persen dengan penerimaan sebesar Rp53,1 triliun. Pertumbuhan ini lebih baik dari pertumbuhan tahun lalu sebesar 13,24 persen.
“Pertumbuhan positif industri pengolahan dan perdagangan di triwulan I memberikan sinyal positif kinerja penerimaan pajak tahun 2018,” jelas Menteri Sri.
Kemudian, penerimaan pajak dari pertambangan pada triwulan pertama sebesar Rp 11,78 triliun atau tumbuh 70,83 persen jauh lebih tinggi dari pertumbuhan tahun lalu yang hanya 4,31 persen.
“Kinerja sektor pertambangan merupakan dampak penguatan harga komoditas sejak akhir tahun 2017,” lanjut mantan Managing Director World Bank tersebut.
--APBN terus dijaga sehat
Menteri Sri menegaskan pemerintah terus berupaya menjaga APBN terus berada dalam kondisi yang sehat. Dengan begitu, APBN dapat menjadi instrument perlindungan masyarakat dari sisi anggaran ketika terjadi guncangan perekonomian seperti kenaikan harga minyak dan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi.
“Kita terus antisipasi kondisi ekonomi regional dan global yang semakin tidak mudah,” ungkap dia.
Defisit anggaran di triwulan I sebesar 0,58 persen dari PDB lebih baik dari defisit di periode yang sama tahun lalu sebesar 0,76 persen dari PDB.
“Defisit tahun ini bahkan jauh lebih baik dari tahun 2016 yang di tiga bulan pertama tercatat 1,13 persen dari PDB,” ungkap dia.
Sementara defisit keseimbangan primer hingga akhir Maret tercatat Rp17,3 triliun. Defisit ini membaik dari triwulan I tahun lalu sebesar Rp38,7 triliun dan desifit keseimbangan primer tahun 2016 triwulan I sebesar Rp38,7 triliun.
Dari sisi belanja negara hingga triwulan I mencapai Rp419,55 triliun atau 18,9 persen dari total anggaran belanja Rp2.220 triliun.
Belanja pemerintah pusat untuk kementerian/lembaga (K/L) ataupun non K/L sebesar Rp233,953 triliun dan transfer dana ke daerah dan dana desa sebesar Rp185,59 triliun.