Muhammad Nazarudin Latief
31 Mei 2018•Update: 31 Mei 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Kinerja ekspor kelapa sawit dan turunannya seperti biodiesel, oleofood dan oleochemcical pada Kuartal I-2018 turun hingga 4 persen dibanding tahun lalu.
Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan pada periode Januari-April tahun ini, ekspor minyak sawit sekitar 10,24 juta ton, sementara ekspor minyak sawit pada Januari-April 2017 sebesar 10,70 juta ton.
Nilai ekspor juga turun sekitar 13 persen dari USD8,6 miliar menjadi USD7,04 miliar.
“Di sisi lain, produksi kita naik sekitar 24 persen, dari 8,4 juta ton jadi 10,4 juta ton,” ujar dia di Jakarta, Rabu.
Ekspor turun ke semua negara-negara tujuan utama sawit Indonesia, seperti China, India, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.
Sepanjang Kuartal I-2018, ekspor ke China turun sebesar 38 persen atau sekitar 379,9 ribu ton.
Ekspor ke India pada April dibanding tahun lalu tergerus sekitar 24 persen, atau berkurang sekitar 570,8 ribu ton dari 2,37 juta ton menjadi 1,8 juta ton.
Uni Eropa membukukan penurunan sekitar 17 persen atau dari 461 ribu ton pada Maret menjadi 385 ribu ton pada April.
Sedangkan ke Amerika pada April 2018, Indonesia hanya mengekspor 62 ribu ton atau turun 42 persen dibanding Maret yang bisa mengekspor 106,5 ribu ton.
Menurut Joko, penurunan ini bisa saja disebabkan oleh kebijakan tarif dan non tarif di negara tujuan. Selain itu, juga akibat fluktuasi harga dan permintaan produk.
Di China, penurunan impor minyak nabati turun karena para traders sedang menunggu regulasi baru tentang pajak impor, dari 11 persen menjadi 10 persen. China juga memberlakukan pengetatan pengawasan atas impor minyak kedelai.
Di India, penurunan impor terjadi karena pemberlakuan tarif impor yang tinggi. Sedangkan di Uni Eropa, penurunan dipengaruhi stok rapesheed dan berbagai aksi kampanye negatif terhadap sawit dan produk-produknya.
Ekspor ke Amerika turun karena stok kedelai yang tinggi sebagai akibat kebijakan retaliasi China terhadap AS yang mengenakan pajak tinggi terhadap produknya.
Menurut Joko, dari sisi harga, produk kelapa sawit juga mengalami penurunan. Sepanjang April, harga CPO global berkisar USD640-680 per metrik ton dengan harga rata-rata USD662,2 per metrik ton. Harga rata-rata April ini menurun USD14 dibandingkan harga rata-rata pada Maret yang berkisar USD676,2 per metrik ton.
“Hambatan-hambatan dagang di negara tujuan harus dikurangi. Tim negosiasi pemerintah harus solid,” ujar dia.
Ada pasar baru
Ekspor produk kelapa sawit periode I-2018 justru mengalami peningkatan ke negara-negara Muslim seperti Bangladesh, Pakistan dan Timur Tengah.
Dalam empat bulan pertama 2018, peningkatan impor minyak sawit Bangladesh sebesar 66 persen atau dari 358.870 ton menjadi 595.090 ton. April 2018 merupakan rekor pertama Bangladesh dengan impor minyak sawit di atas 200.000 ton.
Sementara, impor negara-negara Timur Tengah pada April meningkat 39 persen dari 146.840 ton di Maret menjadi 204.210 ton. Impor minyak sawit Pakistan di April juga meningkat 0,23 persen dari bulan sebelumnya.
Direktur Eksekutif Gapki Danang Giriwardana mengatakan kenaikan impor di Bangladesh memanfaatkan kebijakan impor tinggi di India, sehingga industri olahan di negara tersebut mendapatkan keuntungan besar.