İqbal Musyaffa
23 Mei 2018•Update: 24 Mei 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pelemahan rupiah dapat menyebabkan terjadinya inflasi impor, kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan di Jakarta, Rabu.
Meski begitu, dia memperkirakan dampak pelemahan rupiah terhadap inflasi impor tidak akan besar karena depresiasi rupiah sekitar 5 persen tidak akan memukul semua harga barang.
"Jangan lupa itu inflasi kan tidak hanya menghitung barang hasil impor. Ada banyak barang yang tidak diukur dalam inflasi, tetapi lebih baik kita tunggu daripada menebak-nebak," ungkap Menteri Darmin.
Dia mengatakan, total impor barang pada April memang tinggi, namun hal itu terjadi sudah sejak Januari lalu. Pertumbuhan impor pada periode Januari-April tahun ini dibandingkan Januari-April tahun lalu, menurut dia, sebanyak 21 persen.
“Kalau April saja, kira-kira secara tahunan dari April ini ke April tahun lalu memang tinggi atau sekitar 35 persen,” jelas dia.
Menteri Darmin menambahkan, sekitar 9-10 persen impor Indonesia adalah barang konsumsi. Ini berarti, kata dia, tidak banyak perubahan komposisi dari sebelumnya, yakni 10 persen konsumsi, 20 persen impor barang modal, dan 70 persen bahan baku.
Walaupun impor yang tinggi membuat neraca perdagangan ataupun neraca pembayaran Indonesia menjadi defisit, sebut dia, tetap ada harapan terjadinya pertumbuhan ekonomi yang lebih baik sebagai dampak dari tingginya impor.
Meski demikian, lanjut Menteri Darmin, pemerintah juga masih akan tetap mendorong ekspor. Presiden, menurut dia, telah memerintahkan jajaran kabinet untuk melakukan perluasan wilayah ekspor bukan hanya Asia Timur, tetapi juga merambah Asia Selatan dan Afrika.
"Progresnya sedang berjalan. Artinya hubungan dagang dengan negara di Asia Selatan dan Afrika mulai dibuka oleh Kementerian Perdagangan. Namun hasilnya tidak bisa langsung terasa,” jelas dia.