İqbal Musyaffa
04 Juni 2018•Update: 05 Juni 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp14 ribu per dolar AS tidak berdampak siginifikan terhadap inflasi Mei.
Kepala BPS Suhariyanto pada saat konferensi pers di Jakarta, Senin, mengatakan inflasi Mei hanya sebesar 0,21 persen dengan tingkat inflasi tahun kalender 1,3 persen dan inflasi year to year 3,23 persen karena harga pangan bergejolak atau volatile food masih terkendali.
Dia juga mengatakan tekanan terhadap rupiah saat ini sudah mulai mereda dengan telah dilakukannya langkah antisipatif oleh Bank Indonesia sehingga rupiah saat ini sudah berada di level Rp13.800 per dolar AS.
Sementara itu, pada kesempatan terpisah Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan rendahnya inflasi pada Mei sekaligus menepis pendapat banyak analis yang memperkirakan inflasi akan meningkat akibat dari melemahnya rupiah.
Dia juga menegaskan hal ini membuktikan bahwa dampak pelemahan nilai tukar terhadap inflasi tidak berdampak besar
Inflasi pada Mei atau Ramadhan tahun ini justru lebih kecil dari Ramadhan tahun lalu dengan tingkat inflasi saat itu 0,39 persen.
“Ini bukti nyata komitmen kuat pemerintah dan BI untuk memastikan bahwa pasokan barang tersedia dan harga terkendali,” ungkap dia.
Kemudian Menteri Keuangan Sri Mulyani menyambut gembira rendahnya inflasi pada Mei atau Ramadhan tahun ini. “Biasanya pada saat Ramadhan inflasi bisa mencapai setengah persen,” ungkap dia.
Data inflasi Mei yang dikeluarkan BPS menurut Menteri Sri sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah dan BI terus menjaga daya beli masyarakat agar tidak tergerus dengan kenaikan harga akibat gejolak ekonomi global.
“Stabilitas harga pangan menunjukkan adanya kepastian pasokan yang stabil dan baik,” klaim dia.