Iqbal Musyaffa
13 Mei 2020•Update: 13 Mei 2020
JAKARTA
Pemerintah menyusun rencana perluasan stimulus untuk mendorong konsumsi kelas menengah.
Hal ini dilakukan karena konsumsi masyarakat hanya tumbuh 2,84 persen pada kuartal pertama 2020, jauh di bawah pertumbuhan konsumsi pada kuartal pertama 2019 yang sebesar 5,02 persen.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan stimulus ini akan mulai digelontorkan pada kuartal ketiga mendatang, apabila aktivitas perekonomian mulai bergerak.
“Di kuartal ketiga mungkin kita siapkan paket stimulus untuk pariwisata, restoran, dan transportasi serta untuk stimulus produk elektronik dan pakaian sehingga bisa untuk mendorong konsumsi di kuartal ketiga dan keempat,” jelas Febrio dalam diskusi virtual, Rabu.
Selain itu, dia mengatakan pemerintah berharap pada kuartal ketiga nanti perekonomian mulai bergerak sehingga pemerintah juga mempersiapkan modalitas penjaminan kepada perbankan untuk penyaluran kredit modal kerja baru untuk UMKM sebesar Rp6 triliun untuk jumlah penyaluran kredit mencapai Rp125 triliun.
“Kalau bank belum berani menyalurkan kredit karena terdampak Covid-19 dan juga karena melakukan restrukturisasi kredit, siapa tahu dengan skema penjaminan ini bisa membantu penyaluran kredit,” kata Febrio.
Febrio menambahkan apabila PSBB direlaksasi dan masyarakat mulai beraktivitas sehingga ekonomi bergerak, pemerintah akan melihat peluang dari penjaminan kredit ini untuk penyaluran modal kerja pelaku usaha.
Sementara itu, dia mengatakan konsumsi pada kuartal kedua akan jauh lebih terdampak dari kuartal pertama karena ada pembatasan sosial yang membuat aktivitas perekonomian terhambat.
Oleh karena itu, pada kuartal kedua ini pemerintah berupaya mendorong konsumsi dengan menyalurkan program bantuan sosial kepada masyarakat hingga Desil lima dengan total bantuan yang sudah disalurkan mencapai Rp65 triliun.
“Untuk mendorong stimulus konsumsi sudah siap dan akan dipercepat pelaksanaannya karena sudah ada data penerima bansos hingga 100 juta orang. Tapi pasti tidak sempurna dan masih ada miss,” lanjut dia.
Febrio mengatakan skenario pertumbuhan konsumsi dan juga ekonomi pada kuartal kedua akan lebih buruk dari kuartal pertama, namun pemerintah sedang berusaha agar pada kuartal ketiga dan keempat kembali membaik.