Muhammad Nazarudin Latief
29 November 2018•Update: 30 November 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia akan mempercepat revitalisasi pabrik-pabrik gula untuk mengejar target swasembada pada 2019 mendatang.
Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro mengatakan pihaknya akan meningkatkan efisiensi, kapasitas giling, perbaikan kualitas, hingga hilirisasi produk pada pabrik yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara Grup dan PT Rajawali Nusantara Indonesia).
"Nanti biaya produksi gula BUMN bisa diturunkan sehingga produknya dapat dijual dengan harga terjangkau bagi masyarakat,” ujar dia pada siaran persnya, Kamis.
Efisiensi pabrik dilakukan dengan mengubah proses produksi dari sulfitasi menjadi defikasi remelt karbonatasi.
Sedangkan peningkatan kapasitas dilakukan pada lima pabrik dari semula 20 ribu ton tebu per hari (TCD) menjadi 32 ribu TCD.
Sedangkan hilirisasi dilakukan dengan memproduksi menjadi Bio-ethanol.
Produksinya di lakukan di PTPN X yang pada 2019 akan mulai mengonversi fuel grade bio-ethanol menjadi extra neutral alcohol (ENA) atau industrial grade bio-ethanol berkapasitas 100 kiloliter per day (KLPD).
Selain itu juga memproduksi fermentasi ampas tebu atau fermented bagasse pellet yang dapat digunakan sebagai bahan bakar dengan kapasitas sebesar 3 juta ton per hari.
Sedangkan PTPN XI, akan merevitalisasi pabrik etanol teknis dengan kapasitas 15 KLPD menjadi industrial grade bio-ethanol dengan kapasitas 100 kl per hari.
“Hilirisasi ini akan meningkatkan nilai tambah dan daya saing di kawasan ASEAN,” ujar Wahyu.
Menurut Wahyu, produksi gula BUMN tercatat sekitar 1,16 juta ton. Terdiri dari produksi gula PTPN Group sebanyak 856 ribu ton, PT RNI 271 ribu ton dan PT Gendhis Multi Manis (GMM) sebanyak 35,5 ribu ton.
Gula tersebut masing-masing dihasilkan dari area tebu yang tertebang seluas 224 ribu hektar, terdiri dari 172 ribu hektar area tebu PTPN Group, 46,2 ribu hektar area RNI dan 5,5 ribu hektar lahan GMM.
Tahun ini, produksi gula BUMN diproyeksikan sebanyak 1,19 juta ton, naik dari tahun lalu yang hanya 1,16 juta ton.
Dalam peta jalan gula BUMN, produksi dalam lima tahun ke depan diharapkan bisa mencapai 3,2 juta ton.
Executive Vice President Holding PTPN Aris Toharisman mengatakan pada kurun 2016-2019 investasi pabrik gula BUMN mencapai Rp4,7 triliun.
Dengan dana tersebut, beberapa pabrik bisa menghasilkan gula kualitas premium yang memenuhi standar industri makanan dan minuman.
Sementara pabrik-pabrik yang berkapasitas kecil, berada di perkotaan dan pemukiman padat, serta kesulitan pasokan tebu akan beralih fungsi menjadi sentra komersial lainnya seperti agrowisata dan properti.