Shenny Fierdha Chumaira
05 Juni 2018•Update: 06 Juni 2018
Shenny Fierdha
JAKARTA
Pemerintah mewaspadai kemungkinan terjadinya kenaikan harga sejak tujuh hari menjelang hari raya Idul Fitri yang akan jatuh pada tanggal 15 dan 16 Juni mendatang.
Untuk mengantisipasinya, Kementerian Perdagangan melakukan sejumlah cara untuk mengendalikan harga, salah satunya dengan mewajibkan pedagang beras di pasar tradisional untuk menjual beras dengan harga eceran tertinggi (HET) yang sudah dipatok oleh kementerian pada harga Rp 8.900.
"Bagi daerah yang sudah siap memiliki stok beras dengan harga Rp 8.900, maka tidak perlu melakukan suplai beras karena mereka sudah siap. Namun kalau yang tidak ada harga beras sejenis Rp 8.900, kami sudah berkoordinasi dengan Bulog [Badan Urusan Logistik] untuk menyalurkan beras tersebut dengan keuntungan yang sudah ditetapkan," jelas Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat menghadiri Rapat Koordinasi Lintas Sektor di Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jakarta, Selasa.
Di samping beras, bahan pangan lain yang juga disorot ialah daging ayam dan daging sapi karena rentan mengalami kenaikan harga.
Dia mengimbau agar penyuplai daging sapi beku dan daging ayam beku turut memberikan suplai ke pasar tradisional.
Menteri Enggar mengungkapkan bahwa masyarakat bisa memilih untuk membeli daging sapi yang disediakan oleh Bulog maupun dari Australia, mengingat Indonesia mengimpor daging dari sana.
Selain itu, dia menegaskan bahwa Kementerian Perdagangan sudah menurunkan sejumlah stafnya ke beberapa pasar besar setiap harinya untuk memantau harga.
"Ini menunjukkan bahwa pemerintah hadir untuk memantau harga dan ketersediaan barang," ucap Menteri Enggar.
Sementara itu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian yang turut hadir dalam acara juga memuji keberhasilan Satuan Tugas Pangan Polri dalam memberantas mafia dan kartel pangan yang merusak distribusi.
"Saya paham bahwa Satgas Pangan selama dua bulan terakhir sampai hari ini telah mengungkap kurang lebih 400 kasus masalah kartel pangan dengan ratusan tersangka di seluruh Indonesia. Saya berterima kasih untuk kerja kerasnya," kata Tito.