Muhammad Nazarudin Latief
17 Juli 2019•Update: 18 Juli 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Peningkatan penggunaan biodiesel untuk sektor transportasi akan mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dan menghadirkan bahan bakar ramah lingkungan, ujar Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Archandra Tahar, Selasa.
Menurut Archandra, pemerintah saat ini sedang menguji coba penggunaan B-30 (bahan bakar campuran antara solar dan biodiesel sebanyak 30 persen), lebih tinggi dari kebijakan sebelumnya B-20.
“Dengan energi ramah lingkungan ini, rantai suplai yang dari luar negeri sudah bisa kita eliminasi. Kita mampu menghasilkan kebutuhan energi kita yang berasal dari kemampuan dalam negeri,” ujar Arcandra dalam siaran persnya, Rabu.
Menurut dia kebutuhan solar dalam negeri sekitar 30 juta kilo liter setahun. Saat ini dengan pemanfaatan biodiesel (B20) sudah bisa menghasilkan 6 juta kilo liter fatty acid methyl ester/FAME) yang bisa menggantikan solar.
“Ini diyakini dapat menghemat devisa hingga USD3 miliar,” ujar dia.
Menurut Archandra perlu adanya usaha terus menerus untuk mengurangi impor BBM dalam negeri.
Seiring pertumbuhan ekonomi, kebutuhan BBM terus meningkat dan jika tidak diimbangi dengan ketersediaan di dalam negeri maka kebutuhan impor akan membesar.
Sejauh ini terbukti bahwa impor BBM adalah salah satu penyebab defisit neraca perdagangan Indonesia.
Pada April lalu, terjadi defisit neraca dagang migas sebesar USD2,76 tercatat sepanjang Januari-April 2019.
Pada Mei impor migas mencapai USD2,18 miliar, sedangkan Juni menjadi USD1,71 miliar.
Jika tidak upaya menguranginya, hari demi impor kita akan membesar, ujar Archandra.
Menurut dia, jika dirata-rata, dalam sehari biaya impor sekitar USSD36 juta, dan USD11 miliar dalam setahun.
Di sisi lain, pemerintah juga melakukan berbagai upaya memperbaiki iklim investasi sektor hulu migas.
Menurut dia, sebelum 2015 dan 2016, tidak ada blok migas yang diminati investor dengan skema cost recovery.
Namun kondisi berubah setelah pada 2017 menggunakan skema gross split dan menghasilkan lima blok migas yang diminati oleh investor yang disusul pada 2018 terdapat sembilan blok migas yang diminati.
Hingga Juni 2019, imbuh Arcandra, sebanyak 42 kontrak kerja sama migas telah menggunakan skema gross split.
"Lima di antara kontrak tersebut merupakan amandemen dari cost recovery menjadi gross split dan ini merupakan perbaikan dari sisi hulu," ujar dia.