Muhammad Nazarudin Latief
23 November 2017•Update: 24 November 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Pemerintah akhirnya menyerahkan pengelolaan delapan blok migas terminasi pada perusahaan minyak dan gas negara PT Pertamina.
Namun, perusahaan pelat merah ini diminta untuk menjaga produktivitas dan cost per barel.
"Kalau tidak berhasil akan kami evaluasi dan bisa dikembalikan pada swasta," ujar Dirjen Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial dalam keterangan persnya, Kamis.
Delapan blok tersebut berakhir perjanjian pengelolaanya dengan kontraktor swasta tahun depan. Pertamina mengelola blok tersebut sebagai penugasan pemerintah.
Delapan blok terminasi tersebut, yaitu Blok Sanga-Sanga, Blok South East Sumatera (SES), Blok Tuban, Blok Ogan Komering, Blok NSO, Blok Tengah, Blok East Kalimantan, dan Blok Attaka.
Dari delapan blok, dua blok di antaranya dikembalikan oleh Pertamina kepada Pemerintah. "Yaitu blok East Kalimantan dan Attaka," imbuh Ego.
Kedua blok tersebut akan dilelang dengan mekanisme lelang terbuka pada awal 2018. Ego yakin, banyak operator yang berminat terhadap dua blok tersebut. Pihaknya kini sedang menyusun Terms and Conditions (TnC) dan dokumen penawaran.
Pemerintah juga menggabungkan blok NSO dan Tengah dengan blok terdekat untuk menciptakan bisnis migas yang efektif. Blok NSO akan disatukan dengan wilayah operasi NSB, sedangkan pengoperasian Blok Tengah akan disatukan dengan Blok Mahakam.
Meski memberikan penugasan pengelolaan blok migas pada Pertamina, namun ada sejumlah ketentuan di antaranya harus tetap menjaga jumlah produksi dan biaya cost per barel.
Pemerintah juga akan memberikan pengelolaan pada kontraktor lama jika memberikan penawaran yang spektakuler dan peningkatan produksi.
Ini karena semua operator lama pada empat blok tersebut masih berminat melanjutkan pengelolaan blok terminasi. Pemerintah juga mempersilahkan apabila Pertamina bermitra dengan operator lama.