Iqbal Musyaffa
18 Maret 2020•Update: 19 Maret 2020
JAKARTA
Pemerintah mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun 2020 akan berada di bawah 5 persen akibat dampak dari penyebaran virus korona (Covid-19).
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pada kuartal I hingga minggu kedua atau 10 hari pertama bulan Maret, ekonomi Indonesia masih tumbuh 4,9 persen.
“Kalau di kuartal I masih ada 20 hari terakhir bulan Maret, mengalami penurunan dan kemungkinan pertumbuhan masih bisa di atas 4,5-4,9 persen,” ujar Menteri Sri Mulyani dalam telekonferensi di Jakarta, Rabu.
Dia mengatakan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh, meskipun ekonomi beberapa negara seperti China sudah mengalami pertumbuhan yang negatif.
“Kita akan sangat hati-hati di kuartal II karena prediksi penyebaran virus korona di semua negara seperti China, Korea Selatan, Jepang, Italia, AS, dan Inggris sehingga kita tidak underestimate dampaknya signifikan pada tekanan di kuartal II,” ungkap Menteri Sri Mulyani.
Dia mengatakan pada awalnya pemerintah berharap ada dampak positif musiman di kuartal II dengan adanya Ramadhan, Idulfitri, dan mudik serta adanya THR dan gaji ke-13 untuk Aparatur Sipil Negara (ASN).
“Tapi THR dan gaji ke-13 kalau orang tetap di rumah, kan tidak ada spending sehingga menahan pertumbuhan ekonomi kita, dan kita belum pelajari pengaruhnya pada keseluruhan tahun,” imbuh Menteri Sri Mulyani.
Oleh karena itu, Menteri Sri Mulyani sangat berhati-hati dalam memproyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2020.
Dia menambahkan apabila virus korona bisa ditangani dengan baik dengan menahan penyebarannya dan masyarakat tetap disiplin ikjuti arahan kurangi interaksi sosial untuk menekan penyebarannya, maka masih ada harapan yang beralasan untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di kuartal II.
“Itu tentu best case scenario dan semoga tidak terjadi seperti di Italia,” ujar Menteri Sri Mulyani.