İqbal Musyaffa
19 Desember 2019•Update: 20 Desember 2019
JAKARTA
Bank Indonesia mengatakan pertumbuhan kredit sepanjang 2019 ini masih lesu karena permintaan kredit korporasi yang belum kuat.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan kredit sepanjang tahun ini hanya akan berada di 8 persen yang menunjukkan silklus keuangan masih di bawah optimal.
“Permintaan kredit dari dunia usaha belum kuat, meskipun dari sisi suplai kami turunkan suku bunga, tambah likuiditas, dan relaksasi kebijakan makroprudensial,” ungkap Perry di Jakarta, Kamis.
Perry mengatakan lesunya pertumbuhan kredit terlihat dari angka pertumbuhan kredit pada Oktober yang hanya 6,53 persen secara tahunan atau melemah dari pertumbuhan pada September yang sebesar 7,89 persen.
Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada Oktober sebesar 6,29 persen (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan pada September yang sebesar 7,47 persen (yoy).
Perry mengatakan pertumbuhan kredit ataupun DPK akan membaik pada 2020 dengan perkiraan pertumbuhan kredit 10-12 persen sementara pertumbuhan DPK 8-10 persen sejalan dengan prospek perbaikan pertumbuhan ekonomi.
“Pada saat permintaan kredit meningkat, perbankan siap menyalurkan kredit sehingga akan mendorong permintaan kredit tahun depan,” kata Perry.
Selain itu, Perry mengatakan bahwa stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, meskipun fungsi intermediasi perbankan terus menjadi perhatian Bank Indonesia.
Dia mengatakan stabilitas sistem keuangan terjaga yang tercermin dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Oktober 2019 yang tinggi yakni 23,44 persen, dan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang tetap rendah yakni 2,73 persen (gross) atau 1,25 persen (net).
“Bank Indonesia tetap menempuh kebijakan makroprudensial yang akomodatif dan memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait sehingga dapat tetap menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong fungsi intermediasi perbankan,” jelas Perry.