Hayati Nupus
20 Oktober 2017•Update: 21 Oktober 2017
Hayati Nupus
JAKARTA
Indonesia memiliki potensi pariwisata halal yang besar, ujar Ketua Indonesia Internasional Halal Lifestyle Expo & Conference Jetti R Hadi.
Dia menilai, selain memiliki potensi alam yang indah, sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim, ada banyak sektor halal yang bisa Indonesia kembangkan. Saat ini terdapat 10 sektor yang dipetakan menjadi gaya hidup halal, kata Jetti.
Selain pariwisata, sektor lainnya adalah makanan, fashion, kosmetik, pendidikan, keuangan, farmasi, media dan rekreasional, layanan kesehatan dan kebugaran serta seni dan budaya.
“Kesemua sektor itu bisa dikembangkan untuk mendukung pariwisata halal, prospek kita besar,” kata Jetti kepada Anadolu Agency di Jakarta, Jumat.
Di bidang fashion misalnya, saat ini terdapat sederet perancang busana yang berkonsentrasi pada fashion halal, sebut saja Dian Pelangi, Ria Miranda dan Jenahara.
Di bidang pendidikan, Indonesia memiliki puluhan ribu pesantren, sedang di bidang keuangan saat ini keuangan syariah tengah menjadi pilihan lewat berbagai layanan bank syariah.
Untuk mendukung pariwisata halal di Indonesia itu, pemerintah menargetkan 5 juta dari 168 juta wisatawan muslim sedunia pada 2020 nanti.
Gaya hidup halal, termasuk pariwisata halal, kata Jetti, menjadi pilihan karena tak hanya menyuguhkan produk halal secara Islam, tapi sekaligus memberi dampak baik bagi masyarakat umum.
“Banyak kalangan nonmuslim juga melirik produk halal, karena selain halal juga thoyyib atau baik, semua mau yang baik,” kata dia.
Tak heran bila sejumlah negara, termasuk negara dengan minoritas muslim, membidik pariwisata halal sebagai strategi meraup wisatawan, seperti Jepang, Thailand, Korea dan Chile.
“Sebagai negara dengan mayoritas muslim, Indonesia harus leading dalam bidang gaya hidup halal, termasuk pariwisata halal,” kata dia.