Erric Permana
15 Maret 2018•Update: 16 Maret 2018
Erric Permana
JAKARTA
Presiden Joko Widodo mengusulkan kepada perbankan di Indonesia untuk membuat program kredit atau pinjaman untuk pendidikan (student loan).
Presiden mengambil contoh dari Amerika Serikat yang memiliki pertumbuhan kredit pendidikan yang sangat tinggi dibandingkan total pinjaman kartu kredit.
"Total pinjaman kartu kredit di AS USD800 miliar. Sementara total pinjaman kredit pendidikan USD1,3 triliun," ujar Joko Widodo saat bertemu dengan direktur dan komisaris bank umum di Istana Negara, Jakarta pada Kamis.
Dia berharap dengan adanya program kredit pendidikan, masyarakat bisa beralih dari kebutuhan konsumtif menjadi hal yang sangat produktif.
Selain itu, presiden juga dia berharap program ini menjadi produk finansial yang inovatif.
"Jadi tolong potensi inovasi menjadi perhatian serius kita. Karena kalau tidak berinovasi, nantinya orang akan ambil. Itu pasti," tukas dia.
Menanggapi pernyataan Presiden, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengklaim perbankan di Indonesia saat ini sudah memiliki adanya program sejenis yang diminta Joko Widodo yaitu Kredit Tanpa Agunan (KTA).
Meski, dia mengakui kredit tersebut tidak secara spesifik untuk sektor pendidikan.
Wimboh pun mengaku akan berbicara dengan industri perbankan agar mau membuat produk kredit pendidikan tersebut. Dia juga memastikan tidak diperlukan adanya aturan khusus dari OJK jika industri perbankan mau membuat produk kredit pendidikan.
"Kita buat paket khusus student, kita akan bicara lagi dengan industri, bagaimana assesmentnya, mitigasinya," kata Wimboh di Istana Negara, Jakarta.
Skema pinjaman kredit pendidikan tersebut, kata dia, juga nantinya harus memiliki bunga yang sangat rendah. Wimboh mengaku akan membuat kajian mengenai kredit pendidikan pada tahun 2018 ini.