İqbal Musyaffa
28 Mei 2018•Update: 28 Mei 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Surat utang ritel (saving bond ritel) pemerintah dengan seri SBR003 yang ditawarkan pada 14 hingga 25 Mei lalu telah terjual sebanyak Rp1,928 triliun. Seluruhnya dipasarkan secara daring (online) melalui sistem elektronik yang disediakan oleh sembilan mitra distribusi.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, mengatakan dana hasil penjualan tersebut akan dipergunakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pembiayaan APBN 2018, antara lain untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
SBR003 memiliki masa jatuh tempo 20 Mei 2020. Obligasi tersebut, menurut Luky, tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder dan tidak dapat dicairkan sampai dengan jatuh tempo, kecuali pada masa pelunasan sebelum jatuh tempo.
“Penjualan SBR003 menjangkau 7.642 investor di 34 provinsi di Indonesia dengan jumlah investor baru SBR mencapai 5.683 investor,” jelas Luky.
Luky mengatakan investor terbesar berada pada pemesanan Rp1 juta hingga Rp100 juta dengan komposisi 61,89 persen. Rata-rata volume pemesanan investor adalah Rp252,3 juta.
Berdasarkan kelompok umur, menurut Luky, investor terbesar berada pada kelompok usia 25 sampai 40 tahun dengan porsi 36,72 persen dari total investor. Sementara untuk volume pemesanan terbesar berasal dari kelompok umur 55 tahun ke atas dengan total volume mencapai Rp896,99 miliar atau 46,52 persen dari total pemesanan.
Dari sisi profesi, menurut dia, jumlah investor terbesar adalah pegawai swasta dengan porsi 40,37 persen, selanjutnya wiraswasta sebanyak 21,54 persen, dan ibu rumah tangga sebanyak 9,2 persen.