Muhammad Nazarudin Latief
07 Mei 2018•Update: 07 Mei 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan proteksionisme dan perang dagang adalah ancaman paling nyata perekonomian dunia saat ini.
“Direktur Jenderal WTO [World Trade Organization] mengatakan secara teknis kita belum masuk trade war, tapi secara retorika sudah,” ujar Menteri Sri saat konferensi usai berbicara pada Dewan Kerja sama Ekonomi Pasifik (Pacific Economics Cooperation Council/PECC) di Jakarta, Senin.
Menteri Sri mengisahkan, pada saat pertemuan dengan menteri keuangan negara-negara G20, berkali-kali para menteri keuangan diberi pertanyaan soal apa yang paling mengancam perekonomian dunia. Saat itu para menteri menjawab, bahaya paling besar adalah proteksionisme dan perang dagang.
Secara umum, kata Menteri Sri, perekonomian global masih kuat dan bergerak positif pada 2018-2019. International Monetary Fund (IMF) juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia bisa mencapai 3,9 persen, angka proyeksi paling tinggi sejak krisis finansial pada 2008 lalu.
Namun kondisi perekonomian global saat ini, menurut Menteri Sri, dipengaruhi dua pemain besar ekonomi dunia yaitu Amerika Serikat dan Tiongkok yang sedang memberi respons pada kondisi ketidakseimbangan.
Pada satu sisi Amerika sedang mengalami defisit dan Tiongkok yang mempunyai kemampuan memproduksi komoditas sangat kompetitif.
Amerika bisa saja melakukan langkah-langkah yang membuat dunia terjebak pada defisit, sementara Tiongkok mempunyai kemampuan untuk memproduksi barang yang kompetitif dan mampu menyuplai tidak hanya Amerika tapi dunia.
Ketidakseimbangan ini, menurut Menteri Sri, sebenarnya bukan barang baru dan sudah berlangsung sejak satu dekade yang lalu. Pertemuan-pertemuan para ekonom dunia pun, sebut dia, sudah membicarakan pentingnya mengatasi ketidakseimbangan ini.
“Mengatasi ketidaseimbangan ini penting jika kita ingin melihat perekonomian dunia yang sehat dan berkelanjutan,” ujar dia.
Menurut Menteri Sri lagi, sejak tahun lalu para pembuat kebijakan dan pemimpin politik beretorika tentang sesuatu yang lebih lokal dan berkaitan dengan hidup masyarakatnya sendiri. Hal ini dilakukan para politisi agar bisa terpilih dan melanjutkan kekuasaannya.
Namun, selain dua kekuatan besar ini ada negara-negara yang perekonomiannya semakin besar dan terbuka. Mereka berhasil menyeimbangkan politik lokal serta komitmen global maupun regional.
Dunia, menurut Menteri Sri, membutuhkan hal ini karena selama tiga dekade terakhir perekonomian global digerakkan oleh globalisasi dan ekspor impor antar-negara.
“Pada faktanya, globalisasi dan ekspor impor inilah mesin pertumbuhan yang bisa mengatasi kemiskinan, terutama di negara-negara Asia,” ujar dia.
Pada dasarnya, sebut Menteri Sri, negara-negara di wilayah pasifik menikmati keuntungan dari keterbukaan serta globalisasi ekonomi dunia.
“Jika berbicara tentang pengurangan angka kemiskinan, negara-negara dengan populasi besar di dunia seperti Tiongkok dan India sangat menikmati globalisasi dan keterbukaan ekonomi,” tambah dia.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto pada kesempatan yang sama mengatakan proteksionsme Amerika Serikat ini akan dijawab Indonesia dengan inovasi dengan dukungan lembaga riset yang kuat.
Perang dagang Amerika-Tiongkok yang sedang terjadi kini, menurut dia, justru menciptakan tantangan dan peluang.
Peluangnya antara lain pasar Amerika menjadi terbuka, namun di sisi lain Indonesia juga menghadapi serbuan produk Tiongkok.
“Kita tentu mencari solusinya dengan langkah-langkah yang bisa kita lakukan, misalnya safeguard,” ujar Menteri Airlangga.