İqbal Musyaffa
25 April 2019•Update: 25 April 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia belum menurunkan suku bunga kebijakan dan tetap bertahan sebesar 6 persen meskipun the Fed diprediksi tidak akan menaikkan suku bunga karena kondisi transaksi berjalan yang masih defisit.
Gubernur Bank Indonesia seusai rapat dewan gubernur BI di Jakarta, Kamis, menjelaskan pada triwulan II ada kecenderungan defisit transaksi berjalan (CAD) meningkat akibat adanya pembayaran bunga dan dividen serta pembayaran pokok utang.
“Ekonomi global juga memburuk sehingga ekspor perlu didorong,” jelas Perry.
Dia menambahkan kondisi tersebut yang membuat BI mempertahankan suku bunga walaupun dari berbagai indikator ekonomi membaik, seperti aliran modal asing yang masuk cukup baik.
Selain itu, kata Perry, the Fed juga diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga.
Perry menambahkan pertumbuhan ekonomi juga diprediksi membaik dengan adanya peningkatan konsumsi serta peningkatan investasi.
“Tapi kita perlu mengiring permintaan domestik untuk meningkatkan PDB,” lanjut dia.
Perry menambahkan indikator positif perekonomian lainnya adalah terjaganya tingkat inflasi pada level rendah serta nilai tukar rupiah yang stabil dan cenderung masih undervalue.
“Kredit juga masih tumbuh. Pada Februari tercatat 12,1 persen (yoy) lebih tinggi dari Januari yang sebesar 12 persen," tambah dia.
Perry juga mengungkapkan bahwa likuiditas saat masih lebih dari cukup dengan indikator Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) pada Februari sebesar 22,3 persen.
Perry memandang cadangan devisa juga baik dengan posisi USD124,5 miliar hingga akhir Maret.