Tuba Ongun
22 Juni 2023•Update: 26 Juni 2023
ANKARA
Bank Sentral Turkiye pada Kamis mengambil kebijakan menaikkan suku bunga acuan sebesar 650 basis poin menjadi 15 persen, kenaikan bunga pertama dalam 27 bulan terakhir.
Tingkat repo satu minggu naik menjadi 15 persen dari sebelumnya 8,5 persen, bank tersebut mengatakan setelah pertemuan Komite Kebijakan Moneter keenam tahun ini dan pertemuan yang pertama di bawah kepemimpinan Hafize Gaye Erkan, gubernur baru bank tersebut.
"Komite memulai proses pengetatan moneter untuk menetapkan jalur untuk melawan inflasi sesegera mungkin, untuk menahan ekspektasi inflasi, dan mengendalikan penurunan perilaku penetapan harga," kata bank dalam sebuah pernyataan.
Menjelang pengumuman pada Kamis, ekspektasi para ekonom untuk jumlah kenaikan suku bunga sangat bervariasi, dari 14 hingga setinggi 40 poin persentase.
Bank Sentral Turkiye menekankan pentingnya proses pengetatan untuk meningkatkan efektivitas kebijakan moneter.
Pengetatan moneter akan semakin diperkuat sebanyak yang dibutuhkan secara tepat waktu dan bertahap sampai perbaikan yang signifikan dalam prospek inflasi tercapai, ungkap pernyataan itu.
Tingkat inflasi konsumen tahunan Turkiye melambat ke level terendah dalam 17 bulan di 39,59 persen di bulan Mei, menurut data terbaru.
“Selain itu, untuk dapat mempertahankan stabilitas harga dalam jangka panjang, Bank Sentral Republik Turkiye akan terus mendukung investasi strategis yang akan meningkatkan neraca transaksi berjalan,” sebut pernyataan dari bank.
Neraca transaksi berjalan Turkiye membukukan defisit USD5,4 miliar di bulan April, meningkat dari USD4,9 miliar di Maret.
Presiden Recep Tayyip Erdogan mengubah tim keuangannya setelah kemenangannya pada pemilihan Mei, membawa tokoh-tokoh terkemuka seperti Mehmet Simsek, menteri keuangan baru, dan Erkan, wanita pertama yang memimpin bank sentral negara itu.
“Untuk meningkatkan fungsionalitas mekanisme pasar dan memperkuat stabilitas keuangan makro, Komite bank akan menyederhanakan dan meningkatkan kerangka kerja mikro dan makroprudensial yang ada,” imbuh bank sentral.