İqbal Musyaffa
15 April 2019•Update: 16 April 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada bulan Maret 2019 Indonesia mencatatkan ekspor dengan nilai USD14,03 miliar atau menjadi yang tertinggi dalam tiga bulan pertama 2019.
Nilai ekspor Indonesia pada Januari sebesar USD13,93 miliar dan ekspor pada Februari sebesar USD12,56 miliar. Namun, bila dibandingkan dengan Maret tahun lalu nilainya menurun 10,01 persen dari USD15,59 miliar.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan peningkatan ekspor 11,71 persen (month to month) pada Maret dipicu oleh kenaikan ekspor nonmigas sebesar 13 persen, meskipun terdapat penurunan ekspor migas sebesar 1,57 persen.
“Nilai ekspor nonmigas pada Maret sebesar USD12,93 miliar dan ekspor migas USD1,09 miliar,” ungkap Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Suhariyanto menjabarkan seluruh sektor ekspor nonmigas mengalami pertumbuhan dari bulan sebelumnya.
Ekspor pertanian tumbuh 15,91 persen month to month dengan nilai USD0,27 miliar. Sementara ekspor sektor industri pengolahan meningkat 9,48 persen dengan USD10,31 miliar.
“Komoditas industri pengolahan yang ekspornya naik antara lain besi baja, logam dasar mulia, kimia dasar organik, dan tembaga,” jelas dia.
Suhariyanto menambahkan sektor pertambangan juga mengalami pertumbuhan ekspor sebesar 31,08 persen dengan nilai USD2,36 miliar
“Kenaikan ekspor pertambangan terjadi pada batu bara, bijih tembaga, dan biji logam lainnya,” imbuh Suhariyanto.
Dia mengatakan kontribusi ekspor terbesar masih didominasi oleh sektor industri pengolahan dengan jumlah 73,48 persen. Sementara tambang menyumbang 16,8 persen, migas 7,79 persen, dan pertanian 1,93 persen.
Suhariyanto menjelaskan pada Maret ini terdapat peningkatan ekspor ke beberapa negara tujuan seperti China sebesar USD437,3 juta, Filipina USD168,5 juta, dan Jepang USD139,8 juta.
Sementara penurunan nilai ekspor terjadi pada tujuan Spanyol sebesar USD42,2 juta, Belgia sebesar USD17,2 juta, dan Srilanka USD9,6 juta.