KILIS, Turki
Setidaknya tiga warga sipil, termasuk seorang anak, terluka ketika roket yang ditembakkan oleh teroris PYD/PKK dari wilayah Afrin, Suriah, menghantam bangunan di provinsi perbatasan Turki yakni Kilis dan Hatay pada Sabtu, kata narasumber setempat.
Sejak Operasi Ranting Zaitun di wilayah barat laut Afrin di Suriah dimulai pada 20 Januari, PYD/PKK meluncurkan serangan roket yang menyasar area pemukiman di provinsi sebelah selatan Turki, dan menewaskan setidaknya tiga warga sipil dan melukai 50 warga.
Salah satu roket menghantam atap bangunan lima lantai di pemukiman 7 Aralik sekitar jam 03.00 (1200 GMT), menurut narasumber anonim yang enggan mengungkapkan identitasnya karena dilarang berbicara kepada media.
Ambulans dan pasukan keamanan telah dikirimkan ke lokasi, dan korban luka dilarikan ke Rumah Sakit Daerah Kilis.
Wakil Perdana Menteri Hakan Cavusoglu menekankan kepada Anadolu Agency di depan bangunan yang diserang oleh PYD/PKK tersebut bahwa operasi ini utamanya bertujuan menciptakan keamanan perbatasan dan nasional.
Cavusoglu juga mendorong Amerika Serikat (AS) untuk menarik mundur bantuan yang diberikan untuk kelompok teroris tersebut.
Dukungan AS kepada PYD/PKK dinilai Ankara sebagai cabang Suriah terkait dengan kelompok teror PKK yang telah melancarkan serangan selama 30 tahun kepada Turki. Kampanye teror itu telah menewaskan puluhan ribu orang, termasuk anak dan wanita.
Dukungan AS untuk kelompok teror ini telah lama mengusik Ankara sebab Washington memandang kelompok yang dinaungi PYD/PKK yaitu SDF sebagai "mitra terpercaya" dalam memerangi Daesh dan terus memberikan senjata dan peralatan, sedangkan Turki sendiri sangat menolak.
Kemudian, sebuah roket lainnya menyerang bangunan tiga lantai di distrik Reyhanli di Provinsi Hatay, Turki, melukai seorang anak.
Turki melakukan Operasi Ranting Zaitun pada 20 Januari untuk membasmi PYD/PKK dan kelompok teroris Daesh dari Afrin yang terletak di barat laut Suriah.
Menurut pihak militer, operasi ini bertujuan untuk menciptakan keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki dan juga untuk melindungi warga Suriah dari kekejaman dan penindasan teroris.
Operasi ini dilakukan di bawah kerangka hak asasi manusia yang dibuat Turki berdasarkan hukum internasional, resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hak membela diri di bawah piagam PBB, dan penghormatan terhadap integritas wilayah Suriah.
Pihak militer pun mengatakan bahwa hanya target berupa teroris saja yang dilumpuhkan dan "yang terpenting" tidak melukai warga sipil.
Afrin telah menjadi tempat persembunyian utama anggota PYD/PKK sejak Juli 2012, ketika rezim Assad di Suriah menyerahkan kota kepada kelompok teror tanpa perlawanan.
news_share_descriptionsubscription_contact
