Maria Elisa Hospita
23 Juni 2018•Update: 24 Juni 2018
Andac Hongur
ISTANBUL
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Jumat menegaskan kembali perlawanannya terhadap terorisme dan menyatakan bahwa negaranya mungkin akan melancarkan operasi militer di wilayah Sinjar, utara Irak.
Saat berkampanye di distrik Atasehir, Istanbul, Erdogan mengatakan, “Sekarang, operasi kita berada di Irak, Qandil. Jika diperlukan, kita akan berada di Sinjar.”
"Siapapun yang mengganggu negara kita, akan kita tembak," tandas dia.
Pada Kamis, Erdogan mengatakan bahwa militer Turki "menaklukkan" 35 anggota kunci kelompok teror PKK dalam operasi udara di kawasan Gunung Qandil.
Menurut Ankara, keberadaan kelompok-kelompok teroris di dekat perbatasannya merupakan sebuah ancaman, sehingga mereka telah melancarkan operasi militer dan upaya-upaya lain untuk mengusir teroris.
Erdogan juga mengungkapkan bahwa tentara Turki telah menaklukkan 4.600 teroris YPG/PKK di wilayah Afrin, Suriah, dan 3.000 teroris Daesh di Jarablus, Suriah.
Pada 20 Januari, Turki melancarkan Operasi Ranting Zaitun untuk memberangus teroris YPG/PKK dan Daesh dari Afrin, di barat laut Suriah. Kemudian pada 18 Maret, atau hari ke-58 operasi, pasukan Turki beserta Tentara Pembebasan Suriah berhasil membebaskan kota Afrin.
Pada Senin, pasukan Turki dan Amerika Serikat mulai berpatroli di Manbij, Suriah, sejalan dengan kesepakatan yang pertama kali diumumkan setelah pertemuan di Washington pekan lalu antara Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo.
Kesepakatan Manbij berfokus pada penarikan kelompok teror YPG yang berafiliasi dengan PKK dari utara Suriah untuk menstabilkan kawasan itu.
Jika taktik itu terbukti sukses, Turki akan mempraktikkan hal serupa di timur Suriah.
Dalam kampanye melawan Turki selama 30 tahun, PKK telah menyebabkan 40.000 orang tewas, termasuk perempuan dan anak-anak.