Chandni Vasandani
28 Agustus 2017•Update: 28 Agustus 2017
By Kubra Chohan
ANKARA
Dewan Rohingya Eropa (ERC) pada Minggu menyampaikan kekhawatiran mengenai penderitaan populasi Rohingya menyusul serangan di negara bagian Rakhine di Myanmar.
Dalam rilis medianya, dewan Rohingnya itu mengungkapkan keprihatinan mendalam dan mendesak komunitas global untuk “perlindungan dan keamanan di negara bagian Rakhine”.
Serangan mematikan di perbatasan Rakhine terjadi pada Jumat dan menyebabkan kematian lebih dari 100 korban. Setelah itu, laporan media mengatakan pihak keamanan Myanmar diduga mengusir ribuan warga Rohingnya dengan membakar dan menembaki rumah mereka.
Kelompok itu mengatakan banyak warga setempat termasuk perempuan dan anak-anak bersembunyi di hutan, sebagian lain mengambil risiko dengan menyeberang perbatasan Myanmar-Bangladesh, dan sejumlah lainnya terdampar di sisi Myanmar sungai Naf setelah Bangladesh memperketat keamanan perbatasan dan menolak Rohingya yang mencoba menyelamatkan diri.
“Kita meminta komunitas internasional menerapkan “tanggung jawab melindungi” karena populasi sipil Rohingya sekali lagi mengalami ‘tindakan kriminal melanggar kemanusiaan’ di bawah tangan Pasukan Bersenjata Myanmar,” bunyi pernyataan organisasi tersebut.
Mereka juga mengatakan bukan suatu kebetulan kejadian ini datang menyusul rilis laporan mengenai situasi Rakhine yang diriset oleh mantan kepala PBB Kofi Annan.
“Ini sudah diperhitungkan guna mengabaikan rekomendasi komisi itu, yang menganjurkan agar warga Rohingya diberikan kewarganegaraan, kebebasan bergerak, layanan kesehatan dan pendidikan, akses pada bantuan kemanusiaan,” tulis laporan itu.
Wilayah itu dirundung konflik antara komunitas Buddhis dan Muslim di sana sejak kekerasan merebak pada 2012.
Pengetatan keamanan pada Oktober tahun lalu di Maungdaw, di mana penduduk mayoritas adalah Rohingya, berujung pada laporan PBB mengenai adanya pelanggaran HAM oleh pihak keamanan.
PBB mendokumentasi adanya pemerkosaan massal, pembunuhan, termasuk bayi dan anak-anak, kekerasan brutal dan penghilangan orang. Representatif etnis Rohingya mengatakan sekitar 400 orang tewas dalam operasi itu.
ERC mendorong negara-negara anggota ASEAN dan negara-negara tetangga Bangladesh, India dan Tiongkok untuk menekan Myanmar agar mengikuti peraturan dan tidak melakukan pelanggaran HAM, mencegah penggunaan kekerasan brutal pada warga sipil Rohingya dan mengembalikan warga sipil ke rumah mereka dengan aman.