06 September 2017•Update: 08 September 2017
Enes Kaplan dan Mumin Altas
ANKARA
Perdana Menteri Turki mengatakan bahwa masyarakat internasional perlu berbuat lebih banyak dalam menghadapi kejahatan kemanusiaan, Selasa.
"Perserikatan Bangsa-Bangsa dan masyarakat internasional perlu bertanggung jawab penuh untuk lebih peka dan mengambil sikap tegas terhadap kejahatan kemanusiaan di Korea Utara, Arakan [Negara Bagian Rakhine, Myanmar], dan daerah lainnya," kata Binali Yildirim kepada pers di Mahkamah Agung Banding di Ankara, ketika menghadiri upacara pembukaan tahun yudisial.
Menurut PBB pada Selasa, 123.600 Muslim Rohingya telah menyeberang dari Myanmar ke Bangladesh karena aksi kekerasan yang berlangsung baru-baru ini.
Aksi kekerasan atas Rohingya terjadi sejak Oktober lalu, termasuk di antaranya pemerkosaan, pembunuhan - termasuk terhadap bayi dan anak-anak - pemukulan brutal, dan penghilangan paksa.
Ketika ditanya mengenai reaksi Turki atas kabar terbaru dari Korut, Yildirim mengatakan bahwa Turki juga sama khawatirnya dengan dunia mengenai perkembangan saat ini."
"Langkah dan aksi gila tidak seharusnya dibiarkan menghantui masa depan dunia," tegasnya.
Korut mengklaim telah meledakkan sebuah bom hidrogen baru pada Minggu. Kantor berita resmi Pyongyang kemudian mengatakan bom tersebut dapat dipasang pada rudal balistik antarbenua.
Mengenai laporan bahwa Yildirim akan bertemu dengan Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence, Yildirim mengatakan bahwa kedua belah pihak sedang mengupayakan untuk bertemu "kapan pun jika rencana kami bertepatan satu sama lain".