Shenny Fierdha Chumaira
20 November 2017•Update: 21 November 2017
Shenny Fierdha Chumaira
JAKARTA
Mayoritas warga Desa Banti dan Kimbely, Papua, yang dievakuasi oleh aparat dari sandera kelompok bersenjata merupakan pendatang.
Kepala Subbidang Penerangan Masyarakat Hubungan Masyarakat Polda Papua Ajun Komisaris Besar Suryadi Diaz mengatakan kepada Anadolu Agency pada Senin, bahwa warga asli Papua lebih memilih untuk bertahan di daerahnya dan menolak dievakuasi karena ingin mempertahankan rumahnya.
"Sedangkan kalau pendatang itu datang ke desa untuk mendulang," kata Suryadi.
Aparat TNI dan Polri telah berhasil mengevakuasi sekitar 500-600 warga yang sempat disandera selama lebih dari seminggu.
Hari ini, aparat kembali mengevakuasi warga kedua desa dan dijadwalkan tiba di Timika pukul 13.00 WIT menggunakan 12 bis yang dikawal ketat. Namun Suryadi belum bisa memberikan jumlah warga yang berhasil dievakuasi hari ini.
"Masih tunggu kabar resmi," kata Suryadi singkat.
Suryadi mengatakan bahwa kelompok bersenjata telah kabur ke hutan di sekitar kedua desa.
Pada kesempatan terpisah, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian mengatakan bahwa aparat gabungan masih terus memburu kelompok bersenjata tersebut.
"Kami tetap mengejar kelompok ini karena potensi ancaman masih ada," kata Tito di Jakarta, Senin.
Evakuasi pertama kali dilakukan Jumat pekan lalu (17/11) dengan menyelamatkan 344 pendatang.
Setelah dievakuasi, mereka kemudian diserahkan ke pemerintah kabupaten setempat untuk kemudian dipulangkan ke daerah asal.
Sekitar 1.000 penduduk asli Desa Banti dan 300 warga non-Papua di Desa Kimbely dilarang keluar desa oleh kelompok bersenjata sejak awal bulan ini, kecuali para perempuan yang diperbolehkan keluar desa untuk belanja makanan.
Tito memperkirakan kelompok bersenjata ini terdiri dari 25-30 orang dan berbekal 5-10 pucuk senjata api.