04 Maret 2018•Update: 04 Maret 2018
JAKARTA
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam hal ini Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut memberikan apresiasi atas keberhasilan tim di lapangan dalam penyelamatan Paus yang terdampar di Perairan Pelabuhan Jangkar Situbondo sejak Jumat hingga Sabtu dini hari, 2-3 Maret 2018.
Penyelamatan tersebut membutuhkan waktu hampir 24 jam sejak ditemukan pertama kali oleh nelayan setempat, kata kementerıan tersebut.
“Kami melihat kesadaran nelayan yang melaporkan adanya Paus terdampar kepada instansi Pemerintah terdekat sudah berjalan dengan baik dan relatif cepat”, ungkap Brahmantya Satyamurti Poerwadi, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP di Jakarta, Jum'at.
Paus berhasil dievakuasi ke laut lepas Perairan Situbondo Sabtu, 3 Maret 2018 dini hari pukul 00.30 WIB dengan cara menarik dan menggiring ke arah perairan lepas yang lebih dalam saat air pasang. Paus tersebut diduga terdampar karena terpisah dari rombongan dan terjebak di perairan dangkal, Paus yang berjenis Paus sperma (Physeter macrocephalus) tersebut memiliki panjang sekitar 17 meter.
Kondisi kesehatan Paus saat dilepaskan semakin membaik ditandai dengan frekuensi semburan dan cara berenang, kata dia.
Saat terdampar, posisi Paus menetap di lokasi pada kondisi air surut ketinggian 1.5 meter, posisi badan miring untuk menghindari gesekan bagian bawah badan dengan substrat dasar perairan yang berpasir dan lumpur, kata Brahmantya.
"Untuk menjaga suhu tubuh, tim membasahi badan Paus dengan karpet yang kemudian disiram air dengan tujuan untuk menjaga kelembaban tubuh Paus dan tetap memantau," tambah dia.
Kepala UPT Balai Pengelolaan Pesisirdan Laut Denpasar, Suko Wardono menjelaskan teknis penanganan terus disampaikan dengan diprioritaskan mengamankan lokasi dari kerumunan massa/masyarakat yang sangat antusias melihat dalam jarak dekat.
Pengendalian ini menjadi kunci penting dalam penanganan yang bertujuan menghindari stres Paus dan olah gerak manuver Paus di laut, kata dia.
“Tim mengupayakan terus menyiram air laut di seluruh badan bagian badan atas Paus untuk membuat nyaman dan dingin," jelas Suko. T
eknik ini dilakukan bertujuan untuk mempertahankan suhu tubuh Paus selama terpapar matahari. "Berkat koordinasi yang baik dengan unsur terkait di lapangan, alhamdulilah, penanganan dilakukan cepat dibantu oleh seluruh unsur dilapangan bersama masyarakat”, tambah dia.