Hayati Nupus
18 Juli 2019•Update: 18 Juli 2019
Hayati Nupus
JAKARTA
Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mengungkapkan 53.076 orang mengungsi akibat gempa bumi yang mengguncang Halmahera Selatan, Maluku Utara, pada Minggu lalu.
Plh. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo mengatakan para pengungsi tersebar di 10 kecamatan.
“Sementara penanganan darurat terkendala terbatasnya BBM [bahan bakar minyak], jaringan komunikasi, tenaga medis, trauma healing dan alat transportasi distribusi bantuan,” ujar Agus, Kamis, dalam keterangannya.
Agus mengatakan hingga hari ini para pengungsi masih membutuhkan bantuan seperti terpal, selimut, tikar, air minum, makanan cepat saji dan kebutuhan untuk anak.
Kemarin, lanjut Agus, BNPB mengerahkan helikopter Mi-8 untuk distribusi logistik seperti perlengkapan sekolah, matras, pakaian, selimut, tenda, makanan cepat saji dan kebutuhan lainnya.
Hingga saat ini, kata Agus, terdapat 32 orang terluka berat dan 97 orang luka ringan.
Sementara korban tewas berjumlah enam orang, ujar Agus, satu di antaranya meninggal di pengungsian dan lima lainnya meninggal karena terkena reruntuhan bangunan akibat gempa.
“Ada 73 desa di 11 kecamatan terdampak gempa tersebut,” ujar Agus.
BNPB juga mencatat terdapat 2.473 rumah dan sedikitnya 117 fasilitas umum seperti sekolah, jembatan serta rumah ibadah mengalami rusak berat.
Gempa bumi berkekuatan M 7,2 mengguncang Halmahera Selatan pada Minggu pukul 16.10 WIB.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan pusat gempa berada di darat, 63 km sebelah timur Kota Labuha, Maluku Utara, di kedalaman 10 km.
Hingga Selasa, BMKG mencatat terjadi 65 kali gempa susulan.
Bupati Halmahera Selatan menetapkan status tanggap darurat sepanjang 15-21 Juli 2019.