İqbal Musyaffa
22 November 2017•Update: 23 November 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Sebanyak 178.194 ruang kelas sekolah dasar (SD) mengalami kerusakan di Indonesia.
Kondisi itu sangat mempengaruhi siswa untuk menimba ilmu.
Menurut Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Boediarso Teguh Widodo dibutuhkan dana Rp 20 triliun untuk rehabilitasi seluruh bangunan sekolah yang rusak.
Namun, seluruh APBD hanya menganggarkan Rp2,1 triliun untuk rehabilitasi gedung sekolah sehingga butuh 10 tahun untuk bisa memperbaiki seluruh bangunan sekolah di daerah yang rusak di Indonesia.
Boediarso mengklaim pengelolaan anggaran di daerah sangat buruk, meskipun pemerintah pusat sudah mengalokasikan Rp 261 triliun dana APBD untuk pendidikan di daerah.
“Tapi yang digunakan untuk pembangunan, renovasi, dan rehabilitasi sarana pendidikan hanya Rp7,7 triliun saja,” ungkap dia, di Jakarta Rabu.
Sebanyak Rp247 triliun lainnya justru diprioritaskan untuk gaji dan tunjangan pegawai negeri sipil di sektor pendidikan.
“Jadi wajar kalau banyak gedung sekolah rusak,” tambah Boediarso.
Kondisi itu sangat mempengaruhi kualitas pendidikan di Indonesia yang masih sangat rendah.
Dari 69 negara, Indonesia berada di peringkat 62 untuk kategori sains, 61 untuk kemampuan membaca, dan 63 untuk kemampuan matematika.
Padahal, alokasi bantuan operasional sekolah, tunjangan tambahan penghasilan guru, tunjangan profesi guru, serta tunjangan khusus guru naik dari Rp38 triliun pada tahun 2011 menjadi Rp107 triliun pada tahun ini.