Maria Elisa Hospita
12 Juli 2018•Update: 13 Juli 2018
Maria Elisa Hospita
JAKARTA
Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda, Provinsi Lampung, meletus puluhan kali pada Rabu.
“Sepanjang hari Rabu dari pukul 00-00 -24.00 WIB, gunung itu meletus sebanyak 56 kali dengan durasi letusan 20-100 detik,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran pers yang dirilis Kamis.
Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), lontaran kolom abu Gunung Anak Krakatau mencapai ketinggian sekitar 200 - 1.000 meter dari puncak kawah. Selain abu vulkanik, Gunung Anak Krakatau juga melontarkan pasir dan mengeluarkan suara dentuman. Pada malam hari, sinar api dan guguran lava pijar pun terlihat.
Sehari sebelumnya, pada Selasa, Gunung Anak Krakatau bahkan tercatat meletus sebanyak 99 kali dengan durasi letusan 20-120 detik. Letusan itu disertai suara dentuman sebanyak 10 kali yang menyebabkan kaca pos pengamatan gunung bergetar.
Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau telah berlangsung sejak 18 Juni 2018. Namun hingga saat ini, statusnya masih tetap Waspada (Level II).
Status Waspada berarti aktivitas vulkanik di atas normal sehingga terjadinya letusan dapat terjadi kapan saja, namun tidak membahayakan selama masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 1 km dari puncak kawah.
“Letusan Gunung Anak Krakatau tidak membahayakan penerbangan. Saat ini status VONA adalah oranye. Letusan juga tidak berbahaya selama masyarakat berada di luar radius 1 km,” jelas Nugroho.
Pemerintah telah mengimbau masyarakat sekitar untuk tetap tenang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, BPBD Provinsi Lampung, PVMBG, dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) juga telah melakukan langkah antisipasi.