Erric Permana
28 Oktober 2018•Update: 29 Oktober 2018
Erric Permana
JAKARTA
Dampak ekonomi kerugian dan kerusakan akibat bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah terus meningkat.
Kerugian dan kerusakan akibat bencana di Sulawesi Tengah hingga hari ini tercatat sebesar Rp 18,48 triliun.
Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan jumlah ini lebih besar dari sebelumnya terhitung sejak 21 Oktober 2018 lalu yakni sebesar Rp 13,82 triliun.
Diperkirakan dampak ekonomi berupa kerugian dan kerusakan akibat bencana di Sulawesi Tengah ini masih akan terus bertambah karena masih perhitungan masih dilakukan.
Sutopo menambahkan dari Rp 18,48 triliun, di antaranya merupakan dampak ekonomi akibat yang mencapai Rp 2,89 triliun dan kerusakan mencapai Rp 15,58 triliun.
"Pengertian kerusakan adalah nilai kerusakan stock fisik aset, sedangkan kerugian adalah arus ekonomi yang terganggu akibat bencana, yaitu pendapatan yang hilang dan atau biaya yang bertambah akibat bencana pada 5 sektor yaitu permukiman, infrastruktur, ekonomi, sosial dan lintas sektor," ujar Sutopo.
Kata dia angka Rp 18 trilun itu berasal dari sektor permukiman mencapai Rp 9,41 triliun, sektor infrastruktur Rp 1,05 triliun, sektor ekonomi Rp 4,22 triliun, sektor sosial Rp 3,37 triliun, dan lintas sektor mencapai Rp 0,44 triliun.
Dampak kerugian dan kerusakan di sektor permukiman adalah paling besar karena luas dan masifnya dampak bencana. Hampir sepanjang pantai di Teluk Palu bangunan rata tanah dan rusak berat.
Sementara itu, data korban hingga hari ini, tercatat 2.086 orang meninggal dunia yaitu di Kota Palu 1.705 orang, Kabupaten Donggala 171 orang, Sigi 188 orang dan Parigi Moutong 15 orang. Sementara sebanyak 1.309 orang hilang. Korban luka-luka tercatat 4.438 orang, dan mengungsi sebanyak 206.524 orang.