James Tasamba
22 Juli 2026•Update: 22 Juli 2026
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) mendesak dilakukannya tindakan segera untuk mengendalikan wabah Ebola yang terus memburuk di Republik Demokratik Kongo (DR Kongo).
Lembaga itu memperingatkan bahwa wabah ini berpotensi menjadi yang terburuk dalam sejarah apabila penyebaran virus tidak segera dihentikan.
Hingga hari ke-65 sejak wabah dinyatakan pada 15 Mei, jumlah kasus terkonfirmasi mencapai 2.423, termasuk 967 kematian, menurut pembaruan Kementerian Kesehatan DR Kongo pada Selasa.
Tingkat kematian akibat penyakit tersebut tercatat sebesar 39,9 persen, sementara tingkat pelacakan kontak mencapai 81,1 persen.
"Wabah Ebola berkembang dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Kita harus bertindak sekarang. Jika kita tidak menghentikannya hari ini, wabah ini akan menjadi yang terburuk yang pernah didokumentasikan dunia," tulis Direktur Jenderal Africa CDC Jean Kaseya di platform media sosial X.
"Sekarang bukan saatnya menunda. Kita harus mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia, memperkuat respons di lapangan, dan menghentikan wabah ini sebelum lebih banyak nyawa melayang," tambahnya.
Wabah tersebut telah menyebar ke lima provinsi, yakni Haut-Uele, Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, dan Tshopo.
Provinsi Ituri masih menjadi pusat penyebaran wabah yang disebabkan oleh virus Ebola galur Bundibugyo, dengan penularan yang terus berlangsung.
Kaseya mengingatkan bahwa di balik setiap angka statistik terdapat individu, keluarga, dan komunitas yang terdampak.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan jumlah zona kesehatan yang terdampak meningkat dari 36 menjadi 42 dalam sepekan terakhir.